WARTA, JAKARTA – Tahapan penulisan makalah seleksi terbuka (selter) Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Madya Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalimantan Utara resmi digelar pada Sabtu, 6 September 2025 di Jakarta.

Kegiatan ini dibuka oleh Ketua Panitia Seleksi (Pansel), Komjen Pol Drs. Tomsi Tohir, M.Si. Dihadiri oleh jajaran pansel, Plt Kepala BKD Kaltara, Andi Amriampa, dan jajaran. Tomsi Tohir menegaskan bahwa penulisan makalah bukan sekadar formalitas, melainkan instrumen penting untuk menguji kualitas, visi, dan kepemimpinan calon Sekda.
“Dari makalah inilah kita bisa menilai kemampuan analisis, inovasi, hingga kepemimpinan strategis para kandidat. Semua ini sangat menentukan arah birokrasi Kaltara ke depan,” tegas Tomsi Tohir di hadapan peserta.
Ia kemudian memaparkan enam esensi penting dari penulisan makalah yang menjadi tolak ukur penilaian Pansel:
Pertama, kata Tomsi, makalah menjadi cermin kemampuan analisis strategis calon pejabat dalam mengidentifikasi persoalan aktual dan tantangan pembangunan di Kaltara. “Calon Sekda harus peka terhadap isu-isu pemerintahan dan mampu merumuskan strategi yang tepat.”
Kedua, makalah harus berisi gagasan dan solusi inovatif yang aplikatif dan relevan dengan visi-misi Gubernur serta RPJMD. “Kami tidak mencari jawaban normatif, tapi ide segar yang bisa segera diimplementasikan.”
Ketiga, makalah menilai kompetensi manajerial dan kepemimpinan strategis. Menurutnya, Sekda bukan hanya administrator, tetapi juga motor penggerak birokrasi. “Kami ingin melihat bagaimana calon bisa memimpin perangkat daerah secara kolaboratif.”
Keempat, peserta diuji dalam kemampuan problem solving. “Solusi yang ditawarkan harus konkret. Kemampuan menganalisis masalah dengan metode yang tepat menunjukkan kesiapan mereka menghadapi persoalan birokrasi maupun pembangunan.”
Kelima, makalah menjadi alat ukur kesesuaian kapasitas calon dengan tuntutan jabatan Sekda. Tomsi menegaskan bahwa jabatan ini menuntut keseimbangan antara kompetensi teknis, manajerial, dan sosial-kultural. “Seorang Sekda harus mampu memahami birokrasi sekaligus kultur masyarakat.”
Keenam, makalah harus mencerminkan kontribusi pemikiran terhadap tata kelola pemerintahan yang efektif dan berorientasi pelayanan publik. “Visi besar inilah yang akan membawa Kaltara menuju birokrasi yang akuntabel, adaptif, dan transparan,” ujarnya.
Penulisan makalah berlangsung selama dua jam dengan diikuti oleh 7 calon Sekprov Kaltara. Seluruh tahapan berjalan lancar dan akan menjadi salah satu penilaian penting dalam menentukan siapa yang paling layak menduduki kursi Sekprov Kaltara.




