WARTA, NUNUKAN – Semangat nasionalisme berkobar di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia saat Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., membuka Kirab Kebangsaan dan Pembentangan Bendera Merah Putih sepanjang 81 meter di Lapangan Sungai Nyamuk, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kamis (6/8).
Kegiatan yang digelar dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu menjadi simbol penguatan rasa cinta tanah air sekaligus penegasan bahwa kawasan perbatasan merupakan wajah terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (GERMAS RANA) sebagai bentuk komitmen menciptakan lingkungan yang aman, ramah, dan bebas dari kekerasan bagi anak-anak.
Mengawali sambutannya, Gubernur Zainal menyampaikan apresiasi kepada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kaltara, Pemerintah Kabupaten Nunukan, panitia pelaksana, serta seluruh pihak yang telah bersinergi menyukseskan kegiatan tersebut.
Menurutnya, dipilihnya Pulau Sebatik sebagai lokasi kirab kebangsaan memiliki makna yang sangat strategis karena daerah perbatasan bukan sekadar garis batas negara, melainkan beranda depan Indonesia.
“Pulau Sebatik mengajarkan bahwa perbatasan bukanlah garis pemisah, melainkan beranda depan Indonesia. Dari sinilah semangat kebangsaan, persatuan, dan cinta tanah air terus kita teguhkan,” tegas Gubernur.
Ia mengatakan, pembentangan Bendera Merah Putih sepanjang 81 meter bukan hanya sebuah seremoni, tetapi simbol tekad seluruh masyarakat untuk menjaga kedaulatan bangsa dan mengisi kemerdekaan melalui karya nyata serta pengabdian kepada negara.
Selain memperkuat semangat kebangsaan, Gubernur juga menyoroti pentingnya membangun karakter generasi muda di tengah derasnya arus perkembangan teknologi digital. Menurutnya, tantangan masa depan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga pembentukan akhlak, moral, dan jati diri anak bangsa.
Karena itu, peluncuran GERMAS RANA dinilai sebagai langkah strategis untuk menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, serta terbebas dari kekerasan, perundungan, diskriminasi, maupun penyalahgunaan teknologi digital.
“GERMAS RANA menjadi upaya bersama untuk menghadirkan ruang belajar yang aman sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal,” ujarnya.
Zainal menambahkan, sekolah, madrasah, dan pondok pesantren memiliki peran penting dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, akhlak mulia, serta menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi beragama.
Pemerintah Provinsi Kaltara, lanjutnya, akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah kabupaten dan kota, kementerian, lembaga, dunia pendidikan, serta seluruh elemen masyarakat agar gerakan perlindungan anak tersebut berjalan secara berkelanjutan.
Menutup sambutannya, Gubernur mengajak seluruh masyarakat menjadikan Pulau Sebatik sebagai simbol persatuan, toleransi, dan semangat menjaga keutuhan NKRI.
“Semoga kegiatan ini semakin memperkokoh semangat kebangsaan, mempererat persaudaraan, serta menjadi ikhtiar bersama mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman, dan membahagiakan bagi seluruh anak Indonesia,” pungkasnya.
Acara tersebut turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kaltara, Bupati Nunukan H. Irwan Sabri, jajaran Kantor Wilayah Kementerian Agama Kaltara, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ribuan pelajar dari berbagai sekolah di Pulau Sebatik.




