WARTA, NUNUKAN – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Nunukan kembali menggelar Kompetisi Debat Pelajar Demokrasi ke-4 sebagai upaya meningkatkan partisipasi dan literasi politik di kalangan pemilih pemula menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Nunukan.
Kegiatan ini mengangkat tema “Konsolidasi Demokrasi: Tolak Buta Politik Menyongsong Pemilu Nasional dan Daerah yang Luber dan Jurdil di Perbatasan.” Debat akan diikuti oleh pelajar tingkat SMA/sederajat dari berbagai wilayah di Kabupaten Nunukan.
Bawaslu Nunukan menilai generasi muda memiliki peran strategis dalam menentukan arah demokrasi di masa depan. Karena itu, peningkatan pemahaman politik sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk menciptakan pemilih yang kritis, cerdas, dan bertanggung jawab.
Kompetisi debat tersebut dirancang sebagai wadah bagi para pelajar untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menyampaikan argumentasi secara logis, serta memahami berbagai isu demokrasi dan kepemiluan yang berkembang di masyarakat.
Peserta yang mengikuti kompetisi berasal dari sekolah tingkat SMA/sederajat yang mewakili empat daerah pemilihan (dapil) di Kabupaten Nunukan. Melalui kegiatan ini, para pelajar diharapkan dapat memahami pentingnya partisipasi aktif dalam proses demokrasi serta mampu menjadi agen edukasi politik di lingkungan masing-masing.
Kehadiran pemilih yang cerdas dan berintegritas merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas pemilu dan demokrasi. Pemilih yang memahami hak dan kewajibannya akan lebih mampu menentukan pilihan secara rasional berdasarkan visi, misi, dan program yang ditawarkan peserta pemilu.
Selain menjadi ajang kompetisi, Debat Demokrasi Pelajar juga menjadi sarana edukasi untuk menumbuhkan kesadaran politik yang sehat, khususnya bagi generasi muda yang akan menjadi pemilih pada pemilu dan pilkada mendatang.
Rangkaian lomba akan disiarkan secara langsung melalui media sosial Bawaslu Kabupaten Nunukan, sehingga masyarakat dapat mengikuti jalannya kompetisi sekaligus menyaksikan kemampuan para pelajar dalam mengemukakan gagasan dan pandangan terkait demokrasi di wilayah perbatasan. (*)




