WARTA, TANJUNG SELOR – Program Dokter Terbang yang dijalankan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Pemprov Kaltara) kini menjadi tumpuan harapan bagi masyarakat di daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan (DTPK). Tak hanya menghadirkan layanan kesehatan reguler, program ini juga membuka akses langsung ke layanan medis spesialistikyang selama ini sulit dijangkau.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara, Usman, mengungkapkan bahwa permintaan layanan terbanyak selama program berjalan berasal dari pasien penyakit dalam dan spesialis anak.
“Makanya, dalam setiap keberangkatan, dokter penyakit dalam dan anak hampir selalu dibawa. Selain itu, dokter kandungan juga cukup sering dibutuhkan, meski jumlah pasiennya tidak sebanyak dua layanan tadi. Spesialis mata pun terkadang kita hadirkan sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Ia menegaskan, kehadiran tenaga spesialis menjadi pembeda utama Dokter Terbang dengan program kesehatan biasa. “Kami memilih dokter sesuai kebutuhan pasien di lapangan, supaya program ini tepat sasaran,” tambah Usman.
Dengan adanya program ini, masyarakat yang sebelumnya harus menempuh perjalanan panjang, bahkan melintasi laut, kini bisa mendapatkan layanan medis lanjutan di wilayahnya sendiri.
Pada tahun 2025, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp1,7 miliar untuk program Dokter Terbang. Hingga awal September, realisasi kegiatan telah mencapai 50 persen. Masyarakat pun menyambut positif, terutama warga di perbatasan yang kerap terbatas akses fasilitas kesehatan.
“Dokter Terbang ini seperti jawaban atas keterbatasan. Tidak semua orang bisa datang ke kota, jadi pemerintah yang harus hadir di tengah masyarakat,” ujar Usman.
Ke depan, Pemprov Kaltara berkomitmen memperkuat layanan ini sebagai bagian dari strategi besar menghadirkan kesehatan yang adil dan merata.
“Minimal, masyarakat di DTPK bisa merasakan kehadiran negara di bidang kesehatan tanpa harus meninggalkan kampung halamannya,” pungkasnya.




