spot_img
More
    spot_img

    Mangrove Belaga-One Jadi Lokasi Workshop Ekowisata dan Rehabilitasi Ekosistem Mangrove

    WARTA, NUNUKAN — Kawasan wisata Mangrove Belaga-One kembali menjadi pusat perhatian setelah terpilih sebagai lokasi pelaksanaan Workshop Ekowisata Mangrove dan Sosialisasi Rehabilitasi Ekosistem Mangrove yang digelar oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Nunukan.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Nunukan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengembangkan potensi wisata alam berbasis mangrove di wilayah perbatasan. Workshop tersebut merupakan yang kedua kalinya, setelah sebelumnya dilaksanakan di kawasan Mangrove Sei Fatimah.

    Dalam sambutan Bupati Nunukan yang dibacakan oleh Asisten Administrasi, disampaikan apresiasi atas inisiatif Disbudporapar yang terus mendorong pengelolaan ekowisata berkelanjutan.

    “Melalui kegiatan ini, kita ingin menegaskan pentingnya menjaga ekosistem mangrove sekaligus menjadikannya potensi ekonomi yang bernilai bagi masyarakat. Keindahan mangrove dapat menjadi sumber pendapatan sekaligus daya tarik wisata yang membanggakan bagi Nunukan,” ujar Bupati dalam sambutannya.

    Bupati juga mengajak masyarakat, khususnya yang bermukim di sekitar kawasan mangrove, untuk terus menjaga kebersihan lingkungan.

    “Mari kita rawat alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, apalagi plastik, ke kawasan mangrove. Alam yang kita jaga hari ini akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang,” pesannya.

    Sementara itu, Kadisporapar Kabupaten Nunukan dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan ini memadukan dua agenda utama, yakni Workshop Ekowisata Mangrove dan Penanaman Seribu Bibit Mangrove di kawasan Belaga-One.

    “Tujuan kami adalah meningkatkan pemahaman masyarakat dan pengelola wisata tentang pentingnya konservasi mangrove sekaligus memperkuat daya tarik wisata alam. Dengan pengelolaan yang tepat, wisata mangrove dapat tumbuh menjadi destinasi unggulan Nunukan,” jelasnya.

    Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 45 peserta, terdiri dari perwakilan UPTD Kehutanan Provinsi Kaltara, DLH Kabupaten Nunukan, North Borneo Adventure, serta sejumlah kelompok sadar wisata dari berbagai daerah seperti Air Terjun Binusan dan Mangrove Sei Fatimah.

    Baca Juga:  APBD Nunukan 2026 Resmi Ditetapkan Rp1,7 Triliun, Berikut Rinciannya

    Workshop ini diharapkan menjadi langkah konkret untuk menjadikan kawasan mangrove sebagai simbol keharmonisan antara pelestarian lingkungan dan pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Nunukan.

    SHARE:

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    spot_img

    BERITA TERPOPULER

    spot_img

    BERITA TERBARU