WARTA, NUNUKAN – Dinas Perikanan Kabupaten Nunukan terus berupaya menjaga stabilitas harga rumput laut melalui peningkatan mutu dan pembenahan sistem budidaya. Kepala Bidang Perikanan Budidaya, *Alim Bakhri*, mengungkapkan bahwa meski harga sempat anjlok hingga Rp10.000 per kilogram, kini perlahan mulai membaik di kisaran Rp14.000–Rp15.000.
Menurutnya, kendali harga memang berada pada ranah kebijakan perdagangan, namun pihaknya fokus melakukan intervensi dari sisi *mutu hasil produksi*.
“Kalau soal harga itu memang domainnya dinas perdagangan, tapi kami berupaya memperbaiki mutu rumput lautnya. Karena mutu inilah yang sebenarnya memengaruhi harga di tingkat pembudidaya,” jelas Alim Bakhri.
Ia menambahkan, pemerintah daerah juga tengah mengkaji *rancangan peraturan daerah (Ranperda)* terkait batas atas dan bawah harga rumput laut, meski masih dalam tahap pengkajian mendalam.
“Ada wacana untuk mengatur harga tertinggi dan terendah, tapi masih dikaji. Beberapa daerah sudah coba, rupanya tidak mudah dijalankan. Tapi kita tetap perlu kajian agar kebijakan seperti itu bisa bermanfaat,” ujarnya.
Selain menjaga stabilitas harga, Dinas Perikanan juga fokus memperkuat *penyediaan bibit unggul*. Saat ini tengah dilakukan proses pembibitan rumput laut hasil kultur jaringan di daerah Nunukan dan sebatik, yang masih dalam tahap aklimatisasi.
“Kita sudah mulai pembibitan dari kultur jaringan sejak 2023. Prosesnya panjang, satu tahun baru menghasilkan sekitar 100 bentang. Tapi kalau sudah jadi, pengembangannya akan lebih cepat,” tutur Alim.
Ia menegaskan, langkah-langkah ini sejalan dengan arah kebijakan Bupati dan Wakil Bupati Nunukan yang ingin membangun kampung-kampung berbudaya perikanan serta menjaga stabilitas ekonomi nelayan. (Hyt/REDAKSI)




