WARTA, TANJUNG SELOR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mulai mengembangkan program inovatif bertajuk “Tangkas Desaku” sebagai upaya memperkuat pemulihan ekonomi masyarakat di desa-desa terdampak bencana.

Program ini dipaparkan dalam Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Kapasitas Fase Pemulihan yang digelar di ruang rapat lantai 4 Kantor Gubernur Kaltara, Kamis (11/9).
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Pj Sekprov Kaltara, Bustan bersama Kepala Pelaksana BPBD Kaltara, Andi Amriampa, dan kemudian hadir OPD terkait di lingkungan Pemprov Kaltara, BPBD kabupaten/kota, serta perwakilan desa.
Menurut Andi, “Tangkas Desaku” dirancang sebagai langkah pemulihan jangka panjang melalui pendekatan ekonomi berbasis desa tangguh bencana. Pilot project program ini dimulai di Desa Atap, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai Desa Tangguh Bencana.
“Melalui program ini, BPBD tidak hanya fokus pada penanggulangan bencana, tetapi juga bagaimana membantu masyarakat bangkit secara ekonomi. Kita ingin desa-desa terdampak memiliki daya tahan lebih baik dan kemandirian dalam pemulihan,” jelas Andi.
Program “Tangkas Desaku” akan diintegrasikan dengan Koperasi Merah Putih melalui kerja sama yang difasilitasi dengan peraturan gubernur.
Fokus utama adalah pemulihan ekonomi lokal, peningkatan kewirausahaan berbasis desa, serta memperluas partisipasi masyarakat dalam penguatan ketahanan ekonomi.
Rencana implementasi program akan berjalan bertahap, mulai dari 2026 hingga 2027 penyempurnaan desain program dan sosialisasi peraturan gubernur, hingga peluncuran resmi (launching) “Tangkas Desaku” sekaligus implementasi penuh di seluruh kabupaten/kota di Kaltara.
Andi menambahkan, program ini sejalan dengan visi Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltara yakni Terwujudnya Fondasi Transformasi Kalimantan Utara yang Kokoh Sebagai Beranda Depan NKRI, yang Maju Makmur, dan Berkelanjutan. Masuk dalam misi Mewujudkan Transformasi Ekonomi Daerah yang Berkelanjutan.
“Kami berharap ‘Tangkas Desaku’ mampu mempercepat pemulihan ekonomi desa, memperkuat sinergi dengan koperasi lokal, dan pada akhirnya meningkatkan ketahanan masyarakat menghadapi bencana,” pungkasnya.
Dengan keterlibatan berbagai pihak, kata dia, BPBD Kaltara melibatkan kolaborasi Hexaheliks dalam pelaksanaan program. Termasuk untuk program “Tangkas Desaku”.
Pj Sekprov Kaltara, Bustan mengatakan penanganan bencana di Kalimantan Utara menuntut strategi yang lebih menyeluruh. Hal ini ditegaskan dalam sebuah forum kebencanaan, di mana para pemangku kepentingan diingatkan bahwa penanggulangan tidak bisa hanya dilakukan secara sektoral.
“Perlu ada kebersamaan, tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak saja. Risiko bencana, apalagi di tengah cuaca ekstrem dan hujan yang terus berlangsung, harus dibarengi dengan strategi penanggulangan yang komprehensif,” disampaikan salah satu narasumber.
Ia menjelaskan, strategi itu harus mencakup pencegahan, kesiapsiagaan, hingga fase pemulihan. Namun, ia menekankan bahwa pemulihan tidak boleh semata-mata fokus pada perbaikan fisik atau infrastruktur yang rusak.
“Pemulihan pasca bencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali yang rusak. Lebih penting lagi adalah pemulihan aspek sosial, ekonomi, dan keamanan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, tanpa pemulihan sosial dan ekonomi, wilayah terdampak akan terus dihantui oleh ketidakpastian dan kerentanan. Oleh karena itu, sinergi antarinstansi, tokoh masyarakat, serta dukungan masyarakat luas mutlak diperlukan agar pemulihan benar-benar memberi dampak nyata bagi kehidupan warga.(*)




