“Kami berharap pemerintah segera memperbaiki jembatan. Mayoritas murid kami adalah anak Pekerja Migran Indonesia (PMI). Mereka biasa berjalan kaki jauh setiap pagi. Sekarang mereka tidak bisa ke sekolah sama sekali,” kata Adnan dengan nada haru.
MI Darul Furqon memiliki 57 murid dan 7 guru yang selama ini berjuang mempertahankan kegiatan belajar di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia. Kini, mereka hanya bisa menatap sisa-sisa jembatan yang ambruk sambil berharap bantuan segera datang.




