WARTA, NUNUKAN – Kondisi kritis bangunan SD Negeri 005 Sebatik Tengah yang berada di bibir tebing akhirnya mendapat perhatian Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Nunukan. Namun, tindakan ini menuai sorotan karena baru dilakukan setelah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) turun tangan melakukan monitoring dan memberikan laporan resmi.
Padahal, ancaman longsor yang mengintai sekolah tersebut bukan terjadi dalam semalam. Berdasarkan pengakuan pihak dinas, tanah di sekitar bangunan sekolah lama itu sudah lama tergerus air hujan sedikit demi sedikit.
Menunggu Viral atau Menunggu Laporan?
Kepala Dinas Pendidikan Nunukan, Akhmad, S.IP., M.Si., baru memberikan pernyataan resmi pada Rabu (04/02/2026), setelah tim dari DPRD mengungkap betapa dekatnya jarak antara dinding kelas dengan jurang.
”Kami berterima kasih atas perhatian DPRD yang telah menyampaikan laporan tersebut. Ini menjadi perhatian serius bagi kami,” ujar Akhmad, dikutip situs Berita Nounukan.
Masyarakat pun mempertanyakan mengapa koordinasi internal pendidikan tidak mendeteksi risiko ini lebih awal, mengingat kondisi geografis sekolah yang berada di dataran tinggi sudah diketahui sejak lama.
Dari 5 Meter Menjadi Kritis
Penjelasan Akhmad justru mengonfirmasi bahwa pembiaran telah terjadi cukup lama:
- Jarak Awal: Dahulu terdapat jarak aman sekitar 5 meter antara bangunan dan tebing.
- Kondisi Sekarang: Tanah terus tergerus hingga ancaman longsor kini sudah berada tepat di dinding bangunan.
- Risiko: Jika hujan terus mengguyur, fondasi sekolah dipastikan akan jebol dan bangunan berpotensi runtuh total.
Baru Menurunkan Tim
Setelah laporan DPRD masuk, barulah Disdik melakukan langkah taktis dengan menurunkan tim peninjauan yang dipimpin Kepala Bidang SD, Pak Topik.
Meski berjanji akan mengupayakan anggaran pembangunan siring (dinding penahan tanah), pihak Disdik mengakui bahwa mereka masih harus memohon dukungan dari Bupati dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Hal ini mengindikasikan bahwa penanganan permanen belum masuk dalam skema anggaran prioritas sebelumnya.
”Kalau tanah sampai ke fondasi, sudah pasti bangunan akan runtuh. Itu yang kita antisipasi sejak dini,” tegas Akhmad.
Namun, istilah “antisipasi sejak dini” terasa kontradiktif dengan fakta bahwa jarak aman 5 meter telah habis tergerus waktu sebelum tindakan nyata diambil. Kini, para orang tua siswa hanya bisa berharap siring tersebut segera dibangun sebelum hujan deras berikutnya membawa material bangunan ke bawah jalan. (*)




