WARTA, TANJUNG SELOR — “Dengan kondisi geografis Kaltara yang penuh tantangan, Klaster Logistik bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan mendesak,” tegas Plt Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltara, Rony Haryanto, saat membuka sosialisasi pembentukan Klaster Logistik Penanggulangan Bencana melalui zoom meeting, Selasa (9/12/2025).
Rony yang mewakili Kepala Pelaksana BPBD Kaltara, Andi Amriampa, menegaskan bahwa banyak wilayah di provinsi ini — terutama Krayan, Lumbis Ogong, Sebuku, Kayan Hilir–Kayan Hulu hingga Bahau — berada di area perbatasan dan pedalaman yang sulit dijangkau. Hal tersebut membuat setiap upaya penanganan bencana membutuhkan langkah yang sangat cepat dan terkoordinasi.
“Banjir, longsor, cuaca ekstrem, dan karhutla terjadi di daerah yang aksesnya terbatas. Karena itu, kecepatan distribusi logistik adalah pertaruhan utama,” ujar Rony.
Tantangan 10 Tahun Terakhir: Cuaca Ekstrem hingga Jalur Terputus
Dalam satu dekade terakhir, Kaltara berkali-kali menghadapi bencana hidrometeorologi dan geologi. Keterbatasan transportasi darat, ketergantungan pada jalur udara dan sungai, serta cuaca ekstrem membuat distribusi bantuan sering terlambat. Banjir besar yang memutus jalan dan pesawat perintis yang tidak bisa terbang menjadi kendala klasik di wilayah pedalaman.
Kondisi ini menunjukkan perlunya mekanisme logistik yang lebih kuat, cepat, dan mampu beradaptasi dengan medan ekstrem.
Strategi Penguatan Klaster Logistik
Pada kesempatan yang sama, Direktorat Optimasi Jaringan Logistik dan Peralatan melalui pemateri Maxcenta Alem Hafilah, A.Md., S.I.A., M.Si., memaparkan strategi penguatan klaster logistik Kaltara. Beberapa poin utama meliputi:
1. Pembangunan Subgudang di Titik Rawan
Menyiapkan subgudang permanen di Long Bawan, Long Layu, Long Ampung, Long Nawang, Mansalong, dan kawasan 3T lainnya, lengkap dengan buffer stock untuk 3–7 hari tanggap darurat.
2. Klaster sebagai Forum Koordinasi Pra-Bencana
Mengaktifkan klaster secara rutin untuk sinkronisasi data aset dan sumber daya lintas lembaga seperti TNI/Polri, Dinas Sosial, PMI, NGO, dan dunia usaha.
3. Pemetaan Ulang Jalur Distribusi
Melakukan pembaruan peta jalur evakuasi dan simpul transportasi darat–air–udara serta menetapkan logistics hub untuk distribusi ke wilayah terpencil.
4. Penguatan Armada Udara dan Sungai
Penambahan helikopter dan pesawat kecil yang bisa mendarat di airstrip pedalaman, termasuk kerja sama dengan maskapai perintis dan operator sungai.
5. Standarisasi Manajemen Logistik
Pelatihan warehouse management, supply chain emergency, hingga penggunaan aplikasi real-time untuk memastikan distribusi tepat sasaran.
6. Kolaborasi dengan Dunia Usaha dan Komunitas Lokal
Melibatkan perusahaan sawit, pertambangan, BUMN/BUMD, serta tokoh adat dalam penyediaan fasilitas penyimpanan, alat berat, hingga perencanaan kontingensi.
7. Penambahan Anggaran Berbasis Risiko
Meningkatkan anggaran cadangan logistik provinsi khusus daerah 3T agar respons lebih cepat dan tidak bergantung pada kondisi darurat.
Rony: Kehadiran Negara Harus Terasa Sampai ke Garis Terluar
Menutup kegiatan, Rony kembali menegaskan bahwa penguatan klaster logistik merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam situasi paling kritis.
“Ketika banjir merendam desa pedalaman atau akses terputus akibat longsor, masyarakat menunggu bantuan. Tugas kita memastikan mereka tidak menunggu terlalu lama,” tegasnya.
Ia berharap pembentukan klaster logistik ini dapat menjadi terobosan besar dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan mempercepat layanan darurat bagi masyarakat Kalimantan Utara, terutama di wilayah perbatasan dan pedalaman.




