WARTA, TANJUNG SELOR – Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Kalimantan Utara, Zaenudin, mengingatkan bahwa meski hingga September ini baru tercatat tujuh kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ancaman bencana tersebut tetap harus diwaspadai.
Menurutnya, rendahnya angka kejadian karhutla tahun ini banyak terbantu oleh faktor curah hujan yang cukup tinggi. “Khusus di wilayah Nunukan, intensitas hujan sepanjang tahun menjadi faktor utama sehingga jumlah kasus bisa ditekan. Namun pada dasarnya, kecenderungan karhutla di Kaltara terus meningkat,” jelasnya.
Zaenudin menegaskan, karhutla sebagian besar dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar. Kondisi ini, kata dia, harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait. Apalagi, berdasarkan catatan BPBD, kerusakan lahan akibat karhutla di Kaltara sudah mencapai lebih dari 101 ribu hektare.
Ia menjelaskan, penyusunan rencana kontinjensi kebakaran hutan dan lahan menjadi langkah strategis kedua setelah banjir. Tujuannya untuk memastikan kesiapsiagaan daerah, baik dari sisi sarana, prasarana, maupun pola penanganan di lapangan.
Sementara itu, tim dari BMKG turut menyampaikan bahwa kondisi cuaca di Kaltara relatif sulit diprediksi karena hujan hampir terjadi sepanjang tahun. Namun, memasuki akhir 2025 diperkirakan curah hujan akan menurun.
“Penurunan curah hujan ini patut diwaspadai. Jika memasuki musim kemarau, seperti yang biasanya terjadi di Nunukan pada Februari hingga April, kondisi embung akan kosong dan risiko karhutla meningkat tajam,” tegas Zaenudin.
Ia pun menekankan pentingnya kewaspadaan bersama. Dengan tren curah hujan yang mulai menurun, potensi karhutla harus diantisipasi sejak dini agar tidak menimbulkan kerugian lebih besar bagi lingkungan maupun masyarakat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Utara menggelar Internalisasi dan Lokakarya Penyusunan Rencana Kontinjensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Ballroom Hotel Luminor, Senin (29/9).
Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Pelaksana BPBD Kaltara, Andi Amriampa, melalui Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kaltara, Alvian Pakiding, yang membacakan sambutan Gubernur Kaltara. Ia menegaskan bahwa forum ini menjadi wadah memperkuat sinergi, memperkaya masukan, sekaligus membangun semangat kolektif dalam menghadapi ancaman karhutla.
“Semangat yang kita bangun dalam forum ini akan menjadi fondasi kuat untuk menghadapi tantangan kebakaran hutan dan lahan. Rencana kontinjensi yang disusun harus aplikatif dan benar-benar dijalankan di lapangan,” ujar Alvian.
Karhutla Jadi Ancaman Serius
Kaltara sebagai daerah yang didominasi hutan tropis dengan kondisi topografi yang kompleks memiliki potensi tinggi terhadap berbagai bencana, terutama karhutla. Data BPBD mencatat, dari 267 kasus bencana pada 2024, karhutla menjadi yang terbanyak dengan 103 kejadian. Bahkan, luas lahan terbakar meningkat drastis, dari 370 hektare pada 2022 menjadi 2.400 hektare di 2024.
Hingga Agustus 2025, tercatat sudah ada tujuh kejadian karhutla. Fakta ini menjadi dasar bagi Pemprov Kaltara untuk menetapkan penanggulangan karhutla sebagai prioritas utama dalam kebijakan kebencanaan.




