WARTA, TANJUNG SELOR – Kepulan asap pekat menyelimuti kawasan lahan Selimau, Kecamatan Tanjung Selor, Jumat (4/9). Di tengah kondisi tersebut, Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., memilih turun langsung ke lokasi untuk memimpin penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Mengenakan masker, sepatu keselamatan, dan perlengkapan lapangan, Zainal tak sekadar memantau. Ia ikut memegang nozzle selang pemadam dan mengarahkan semprotan air ke titik api serta lahan yang masih mengeluarkan asap.
Aksi tersebut dilakukan bersama personel gabungan dari Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara, Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Brigdal Karhutla), Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, relawan, serta masyarakat setempat.
Di sela-sela pemadaman, Gubernur Zainal mengingatkan seluruh petugas dan relawan agar tidak mengabaikan keselamatan. Asap yang pekat dan medan yang berat membuat proses pemadaman membutuhkan kewaspadaan ekstra.
“Saya minta semua petugas dan relawan tetap mengutamakan keselamatan dan menjaga kesehatan. Jangan lupa, ada keluarga yang menunggu kita di rumah,” kata Zainal.
Menurutnya, karhutla tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja. Kecepatan respons dan kekompakan seluruh unsur menjadi kunci untuk mencegah api meluas.
“Karhutla adalah tanggung jawab kita bersama. Terima kasih kepada semua petugas, relawan dan masyarakat yang terus bekerja memadamkan api,” ujarnya.
Bulungan Jadi Wilayah Terdampak Terluas
Berdasarkan data rekapitulasi, luas wilayah yang terdampak karhutla di Kaltara telah mencapai 2.639,99 hektare.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.900 hektare berada di Area Penggunaan Lain (APL), 737,49 hektare merupakan Hutan Produksi, dan 2,50 hektare berada di kawasan Hutan Lindung.
Kabupaten Bulungan menjadi daerah dengan luasan terdampak paling besar, mencapai 2.597,38 hektare. Berikutnya Kota Tarakan 31,86 hektare, Kabupaten Tana Tidung 6,25 hektare, dan Kabupaten Malinau 4,50 hektare.
Pemadaman Tak Sekadar Menyiram Api
Sebelum masuk ke lokasi, tim gabungan terlebih dahulu melakukan briefing untuk membagi tugas, memeriksa arah angin, memastikan sumber air, serta menentukan titik kumpul aman atau assembly point.
Teknik pemadaman pun disesuaikan dengan karakteristik lahan.
Pada lahan mineral, petugas melakukan penyiraman langsung dengan tetap memperhitungkan arah angin dan pergerakan api. Sementara di lahan gambut, penanganan membutuhkan teknik berbeda.
Petugas menggunakan nozzle khusus gambut yang ditancapkan ke dalam tanah agar air dapat meresap hingga lapisan bawah. Langkah ini penting karena api di dalam gambut bisa tetap menyala meski permukaan tanah terlihat telah padam.
Pembasahan dilakukan sedikitnya satu menit pada setiap titik hingga tidak lagi ditemukan asap. Setelah itu, petugas melakukan proses pendinginan atau cooling down untuk memastikan bara yang tersisa benar-benar mati.
Langkah tersebut menjadi bagian penting untuk mencegah munculnya kembali titik api dan kebakaran susulan.
Ratusan Personel Disiagakan
Untuk memperkuat penanganan karhutla, ratusan personel Brigdal Karhutla disiagakan di sejumlah dinas dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di wilayah Kaltara.
Pemprov Kaltara juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Pencegahan, kata pemerintah, menjadi langkah paling penting untuk menekan risiko meluasnya karhutla sekaligus melindungi keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.




