WARTA, NUNUKAN – Setelah lebih dari sepekan wilayah Desa Atap terisolasi oleh luapan air, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan akhirnya mengambil langkah tegas. Terhitung sejak Kamis, 8 Januari 2026, status wilayah Kecamatan Sembakung resmi ditingkatkan menjadi Tanggap Darurat.
Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil analisis mendalam tim kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan, eskalasi bencana di lapangan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Level Air Bertahan di Angka Kritis
Kepala Sub Bidang Penyelamatan BPBD Nunukan, Hasanuddin, mengungkapkan bahwa ketinggian air saat ini masih tertahan di level 4 meter. Kondisi cuaca yang tidak menentu, terutama mendung pekat saat malam hari, memicu kekhawatiran akan adanya banjir susulan.
“Kami mempertimbangkan faktor keselamatan jiwa sebagai prioritas utama. Mengingat cuaca masih ekstrem, tim penyelamat harus segera mengamankan warga guna menghindari potensi risiko yang tidak diinginkan,” ujar Hasanuddin pada Jumat (9/1).
Tantangan Evakuasi: Melawan Tradisi ‘Pungka’
Proses penyelamatan warga di lapangan rupanya menemui tantangan unik. Petugas BPBD dan Tagana harus bekerja ekstra keras untuk membujuk warga agar mau dievakuasi.
Sudah menjadi tradisi turun-temurun bagi masyarakat Sembakung untuk bertahan di rumah saat banjir melanda dengan membangun pungka—panggung darurat di dalam rumah. Namun, dengan ketinggian air yang mencapai 4 meter, bertahan di dalam rumah dianggap terlalu berisiko.
“Kami terus memberikan pemahaman secara persuasif. Keselamatan adalah yang utama, sehingga kami imbau warga untuk sementara waktu berpindah ke lokasi yang lebih aman,” tambahnya.
Fasilitas Pengungsian Disiagakan
Untuk menampung para penyintas, Pemkab Nunukan telah mengaktifkan Pos Evakuasi Puncak Bukit. Berbagai fasilitas pendukung telah disiapkan untuk menjamin kesejahteraan warga terdampak, di antaranya:
-
Dapur Umum: Dikelola oleh kolaborasi relawan, KSB, dan Tagana untuk menyuplai konsumsi secara rutin.
-
Layanan Kesehatan: Tim medis disiagakan penuh untuk memantau kondisi fisik para pengungsi.
-
Keamanan Terpadu: Personel TNI dan Polri dikerahkan untuk menjaga ketertiban dan keamanan di area posko.
-
Pendampingan Relawan: Keterlibatan aktif Destana (Desa Tangguh Bencana) dalam membantu distribusi bantuan dan kebutuhan logistik.
Hingga saat ini, tim gabungan masih bersiaga penuh di titik-titik banjir dan posko utama. Pemkab Nunukan memastikan akan memberikan pelayanan maksimal hingga kondisi air surut dan situasi dinyatakan aman bagi warga untuk kembali ke rumah masing-masing.




