WARTA, TIDENG PALE – Membangun kemegahan di wilayah pelosok membutuhkan lebih dari sekadar anggaran besar; ia membutuhkan strategi dan kerja keras. Itulah gambaran proyek ambisius Pemerintah Kabupaten Tana Tidung yang akan menghadirkan masjid baru di Desa Tengku Dacing, Kecamatan Tana Lia, mulai awal tahun 2026.
Bukan sekadar proyek konstruksi biasa, rumah ibadah senilai Rp9 miliar ini menjadi simbol perjuangan pembangunan di daerah pesisir. Mengingat akses darat yang terbatas, Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) harus memutar otak untuk mengirimkan material bangunan.
“Tantangan utamanya adalah mobilisasi. Kami sedang mensimulasikan jalur lewat Luya dengan memanfaatkan pelabuhan. Kemungkinan besar menggunakan sistem ‘estafet’ tiga kali angkut: dari truk besar, pindah ke truk kecil, hingga akhirnya menggunakan kendaraan roda tiga agar sampai ke lokasi,” ujar Rico Ardianto, Kabid Cipta Karya DPUPRKP Tana Tidung.
Desain Pilihan Rakyat
Sisi menarik lainnya, masjid ini tidak dibangun dengan desain sepihak dari pemerintah. Warga desa dilibatkan langsung untuk memilih “wajah” rumah ibadah mereka sendiri. Dari pilihan konsep minimalis, gaya Arab, hingga modern, warga akhirnya sepakat menjatuhkan pilihan pada desain yang memadukan modernitas dengan sentuhan kearifan lokal pada detail pagar dan arsitekturnya.
Detail Proyek Masjid Tengku Dacing:
-
Target Rampung: 2028 (Skema Multiyears).
-
Kapasitas: 1.500 Jemaah.
-
Dimensi Bangunan: 22,5 x 22,5 meter.
-
Fungsi: Pusat religi dan ikon baru wilayah Tengku Dacing.
Proyek yang menjadi program prestisius Bupati Tana Tidung ini dijadwalkan masuk tahap lelang pada Januari 2026. Kehadirannya diharapkan tak hanya mempercantik desa, tetapi juga menjadi pusat peradaban dan kegiatan keagamaan yang representatif bagi masyarakat di ujung Tana Tidung.




