WARTA, TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) terus memperkuat komitmennya dalam mendekatkan layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), melalui Program Layanan Kesehatan Dokter Terbang (Pro LenteraKU).
Hingga akhir Juli 2025, realisasi program ini baru mencapai 40 persen, dengan enam titik wilayah perbatasan dan kepulauan telah tersentuh layanan, yakni Long Bia, Pulau Bunyu, Langap, Sebuku, Sei Menggaris, Aji Kuning (Sebatik), dan Setulang.
“Keluhan terbanyak masih soal penyakit dalam. Layanan ini sangat penting untuk deteksi dini penyakit menular seperti tuberkulosis (TB),” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kaltara, Usman, Senin (28/7/2025).
Program ini tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada upaya preventif dan edukatif, khususnya dalam pengendalian penyakit menular dan kronis.
Fokus Daerah Perbatasan dan Evaluasi Spesialisasi
Layanan Pro LenteraKU didesain sebagai layanan spesialistik bergerak ke daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh tenaga medis tetap. Selain enam lokasi awal, pemerintah juga membidik wilayah Long Loreh, Setulang, dan Sehati (Malinau) sebagai destinasi selanjutnya.
Menurut Usman, evaluasi terhadap kebutuhan diagnosis dan tindak lanjut pasien menjadi bagian penting dari pelaksanaan program ini. Langkah-langkah perbaikan akan terus dilakukan untuk meningkatkan efektivitas layanan dokter spesialis yang terbang langsung ke lapangan.
Dukungan Anggaran dan Target Akhir Tahun
Guna mendukung kelangsungan layanan ini, Pemprov Kaltara telah mengalokasikan dana sebesar Rp1,5 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2025.
“Target kami jelas, realisasi program ini harus 100 persen sebelum akhir tahun. Ini soal akses kesehatan yang adil bagi seluruh warga, terutama di perbatasan,” tegas Usman.




