WARTA, TANJUNG SELOR – Kalimantan Utara (Kaltara) memiliki potensi energi yang besar, namun tantangan pemerataan akses listrik masih menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara kini mendorong penguatan ketahanan energi sekaligus mempercepat akses listrik bagi masyarakat di wilayah pedalaman dan perbatasan.
Upaya tersebut dibahas Pemprov Kaltara bersama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam pertemuan di Ruang Rapat Gedung Gadis 2, Tanjung Selor, Senin (31/8/2026).
Pertemuan melibatkan Dinas ESDM serta Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kaltara. Hadir pula tim BPK RI serta perwakilan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan dan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM.
Kepala Dinas ESDM Kaltara, Dr. Ferdy Manurun Tanduklangi, S.E., M.Si., mengatakan sinkronisasi dengan pemerintah pusat diperlukan agar potensi energi Kaltara dapat dioptimalkan untuk mendukung pembangunan daerah.
“Pembahasan ini penting untuk memastikan kebijakan energi nasional dan daerah bisa berjalan searah, sekaligus mengoptimalkan potensi energi yang dimiliki Kaltara,” kata Ferdy, Rabu (2/9).
Potensi Energi Besar
Kaltara memiliki potensi tenaga air yang diperkirakan mencapai sekitar 13.000 megawatt (MW). Selain itu, cadangan batu bara disebut mencapai lebih dari 1 miliar ton.
Potensi minyak dan gas bumi juga tersebar di sejumlah wilayah, seperti Tarakan, Bunyu, Nunukan dan kawasan lepas pantai. Energi surya serta biomassa dari sektor kehutanan dan perkebunan turut memiliki peluang besar untuk dikembangkan.
Potensi tersebut menjadi modal strategis Kaltara dalam mendukung pengembangan kawasan industri, termasuk Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) dan pembangunan PLTA Kayan.
Namun, besarnya sumber daya energi belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pemerataan akses listrik masyarakat.
Berdasarkan data yang dibahas dalam pertemuan tersebut, rasio elektrifikasi Kaltara berada di kisaran 96,96 persen. Dari sekitar 482 desa, sebanyak 422 desa telah mendapatkan akses listrik, sementara sekitar 60 desa masih belum berlistrikdengan sekitar 7.956 kepala keluarga belum terlayani.
“Potensi energi kita besar, tetapi pemerataan akses masih menjadi tantangan. Wilayah perbatasan dan pedalaman membutuhkan biaya pembangunan infrastruktur yang tinggi,” jelas Ferdy.
Pedalaman Masih Hadapi Kendala
Wilayah seperti Krayan, Lumbis dan Apau Kayan menjadi kawasan yang menghadapi tantangan cukup berat dalam penyediaan infrastruktur kelistrikan.
Kondisi geografis dan keterbatasan akses transportasi membuat pembangunan jaringan listrik membutuhkan biaya lebih besar. Sejumlah wilayah juga masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel dan genset.
Ketergantungan terhadap BBM dari luar daerah turut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi keberlanjutan pasokan energi dan biaya operasional pembangkit.
Karena itu, Pemprov Kaltara melihat pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai salah satu solusi jangka panjang.
Pengembangan PLTA Kayan, PLTS di wilayah terpencil serta pemanfaatan biomassa dinilai dapat menjadi alternatif untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Dorong Kemandirian Energi
Selain pembangunan infrastruktur listrik, pemerintah juga menilai pentingnya penguatan cadangan energi daerah. Infrastruktur penyimpanan dan cadangan energi strategis diperlukan untuk mengantisipasi gangguan pasokan.
Ferdy menegaskan, sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci agar berbagai potensi tersebut dapat dikembangkan secara optimal.
“Kaltara memiliki modal besar untuk memperkuat kemandirian energi dan berkembang sebagai salah satu pusat energi hijau di Indonesia,” pungkasnya.
Dengan potensi energi yang besar dan agenda pembangunan kawasan industri serta hilirisasi yang terus berkembang, Pemprov Kaltara berharap penguatan sektor energi tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan masyarakat di pedalaman dan perbatasan ikut menikmati akses listrik secara lebih merata.




