WARTA, TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) terus memperluas jejaring internasional untuk mempercepat pembangunan berkelanjutan. Salah satunya melalui kunjungan kerja Duta Besar Negara Seychelles, Nico Barito, yang disambut langsung Gubernur Kaltara, Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., di Kantor Gubernur Kaltara, Rabu (22/7).
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting dalam mendorong implementasi program Konservasi Ekonomi Biru sekaligus membuka peluang investasi berbasis pelestarian lingkungan di Kaltara.
Gubernur Zainal A. Paliwang menyampaikan apresiasi atas kunjungan Dubes Seychelles yang dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat kerja sama internasional dalam pengembangan ekonomi masyarakat berbasis potensi sumber daya alam.
“Kehadiran Bapak Dubes di Kalimantan Utara merupakan sebuah kehormatan sekaligus membuka peluang kerja sama yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Gubernur.
Ia menegaskan, Kaltara memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi hijau dan ekonomi biru. Selain kaya akan sumber daya alam, provinsi termuda di Indonesia ini juga memiliki keanekaragaman budaya dari suku Bulungan, Tidung, Dayak, dan berbagai etnis lainnya yang hidup dalam suasana harmonis.
Menurutnya, pengalaman internasional Nico Barito di bidang investasi, lingkungan hidup, pariwisata, hingga pengelolaan sumber daya alam diharapkan mampu memperkuat pengembangan potensi daerah melalui kolaborasi yang saling menguntungkan.
Sementara itu, Dubes Seychelles Nico Barito mengungkapkan kekagumannya terhadap potensi alam yang dimiliki Kaltara, khususnya kawasan mangrove dan pesisir yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola secara berkelanjutan.
Ia menyebut pengembangan mangrove, budidaya ikan dan udang organik, hingga investasi berbasis konservasi dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
“Penanaman mangrove serta pengelolaan ikan dan udang organik dapat menjadi sumber penghasilan ekonomi baru bagi masyarakat Kalimantan Utara,” ungkap Nico.
Menurutnya, pengelolaan kawasan konservasi yang melibatkan masyarakat akan memberikan manfaat ganda, yakni menjaga ekosistem sekaligus membuka akses terhadap pendanaan internasional untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
“Ke depan dapat dibangun skema kerja sama yang menghadirkan dana konservasi dan dana pengembangan sehingga manfaat ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan,” jelasnya.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal bagi Kaltara dalam memperkuat posisi sebagai daerah yang mampu mengembangkan investasi hijau tanpa mengabaikan aspek pelestarian alam. Dengan potensi mangrove yang luas dan kekayaan pesisir yang dimiliki, kerja sama dengan Seychelles diyakini dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan ekonomi biru yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat.




