WARTA, TANJUNG SELOR – Tantangan membangun kawasan perbatasan di Kalimantan Utara bukan rahasia lagi: medan yang berat dan persebaran penduduk yang tidak merata. Fakta lapangan inilah yang menjadi sorotan utama Kepala Biro Adpem Kaltara, Sapi’i, saat menghadiri rapat koordinasi yang digelar Badan Pengelola Perbatasan Daerah Kaltara, Kamis (11/12).
Sapi’i memaparkan bahwa geografis Nunukan dan Malinau memerlukan perlakuan khusus. Strategi pembangunan konvensional tidak akan cukup jika tidak dibarengi dengan pemahaman kondisi demografi yang kompleks.
“Kondisi akses yang sulit menuntut kita untuk lebih cerdas dalam pengawasan realisasi fisik dan keuangan. Setiap rupiah yang dikucurkan kementerian maupun daerah di perbatasan harus terpantau ketat kualitasnya,” ujarnya di depan para pelaksana kegiatan.
Rapat Monev ini menjadi ajang “buka-bukaan” data mengenai sejauh mana proyek-proyek strategis di perbatasan berjalan. Sapi’i berharap, dengan evaluasi yang jujur, hambatan teknis di lapangan dapat dicarikan solusi cepat sehingga pembangunan tidak lagi tertumpu di perkotaan, melainkan merata hingga ke pelosok batas negara.




