WARTA, NUNUKAN — Desa Tepian yang dipimpin Kepala Desa Nurdiansyah menjadi salah satu desa terpencil di Kecamatan Sembakung. Untuk mencapainya, warga harus menempuh perjalanan sekitar dua jam menggunakan speed reguler dengan biaya mencapai Rp300.000 per orang. Jalur air yang berliku-liku mengikuti aliran sungai menuju Tarakan membuat akses transportasi menjadi sulit dan memakan biaya tinggi.
Karena lokasi Desa Tepian lebih dekat ke Kota Tarakan dibandingkan ke Ibu Kota Kecamatan Sembakung, masyarakat pun menggantungkan sebagian besar kebutuhan pokok dan kebutuhan rumah tangga ke Tarakan. Ketergantungan ini semakin memperkuat kebutuhan akan akses transportasi yang lebih layak.
Usulan Pembukaan Jalan Darat Diharapkan Jadi Solusi Utama
Kepala Desa Tepian bersama warga berharap Pemerintah Kabupaten Nunukan memberi perhatian serius terhadap kondisi ekonomi masyarakat yang tertekan oleh keterbatasan akses dan tingginya biaya logistik. Salah satu usulan prioritas yang kembali disampaikan adalah pembangunan akses jalan darat dari Desa Tepian menuju Ibu Kota Kecamatan di Desa Atap.
Pembukaan jalur darat diyakini akan membawa dampak luas: menekan biaya distribusi barang, melancarkan mobilitas warga, membuka peluang perdagangan, hingga mempercepat pertumbuhan ekonomi wilayah IV Kabupaten Nunukan, termasuk Kecamatan Sembakung.
Selain itu, rencana pembangunan Pelabuhan Bongkar Muat di Desa Tepian dinilai berpotensi besar meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Letaknya yang hanya sekitar satu jam perjalanan air ke Tarakan menjadikan Tepian sebagai titik strategis perdagangan dan distribusi barang.
Potensi Lokal Besar, Tapi Terkendala Akses
Walau terisolasi, masyarakat Tepian memiliki potensi ekonomi yang cukup kuat. Desa ini dikenal sebagai penghasil ikan, udang, hasil perkebunan, hingga sarang burung walet—komoditas bernilai tinggi yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi warga. Namun tanpa akses memadai, pemasaran hasil produksi menjadi tidak maksimal.
Aparatur desa bersama BUMDes, koperasi, dan UMKM terus berupaya menumbuhkan ekonomi lokal secara mandiri. Semangat inovasi masyarakat juga tetap terjaga meski infrastruktur dasar masih terbatas.
Tantangan Berat: Harga Mahal, Infrastruktur Terbatas, Kantor Desa Belum Terbangun
Pada kunjungan Staf Ahli Provinsi Kaltara dan Asisten II Kabupaten Nunukan pada 28 November 2025, Kepala Desa Tepian memaparkan sejumlah persoalan krusial:
-
Harga bahan pokok tinggi akibat biaya transportasi yang mahal.
-
Gas elpiji sulit didapat dan harganya jauh lebih mahal dibandingkan daerah lain.
-
Material bangunan langka karena harus didatangkan seluruhnya melalui jalur air.
-
Kantor desa terbakar dan runtuh, namun belum ada solusi pembangunan kembali.
-
Dana desa tidak bisa digunakan untuk membangun kantor desa karena keterbatasan regulasi.
Situasi ini membuat kebutuhan akan perhatian pemerintah semakin mendesak.
Harapan Besar untuk Percepatan Pembangunan
Meski dihimpit persoalan, perangkat desa, BPD, tokoh masyarakat, dan warga tetap kompak mendorong kemajuan. Desa Tepian juga aktif menggandeng pihak ketiga, termasuk perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut, untuk turut serta dalam pembangunan.
Masyarakat berharap pemerintah daerah memberikan perhatian khusus terhadap pembangunan infrastruktur, terutama akses jalan darat, yang dinilai menjadi kunci penguatan ekonomi dan percepatan pembangunan Desa Tepian.
Dengan potensi besar yang dimiliki serta semangat masyarakat yang tak pernah padam, Desa Tepian diyakini dapat berkembang pesat apabila didukung kebijakan dan pembangunan yang tepat dari pemerintah.




