WARTA, JAKARTA – Suara petani kelapa sawit Kalimantan Utara (Kaltara) dibawa langsung ke panggung nasional. Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPW APKASINDO) Kalimantan Utara, Muh. Khoiruddin, hadir dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APKASINDO 2026 sekaligus Pertemuan Nasional Petani Kelapa Sawit Indonesia (PENAS) III di Jakarta, 27–29 Oktober 2026.
Tidak datang sendiri, Muh. Khoiruddin membawa delegasi petani sawit dari empat kabupaten di Kaltara, yakni Bulungan, Malinau, Tana Tidung, dan Nunukan. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa aspirasi petani di daerah, termasuk wilayah perbatasan, harus mendapat ruang dan perhatian dalam perumusan kebijakan perkebunan kelapa sawit di tingkat nasional.
Partisipasi tersebut sekaligus menegaskan komitmen APKASINDO Kaltara untuk memperjuangkan kepentingan pekebun rakyat, mulai dari perlindungan harga tandan buah segar (TBS), kepastian hukum lahan, hingga peningkatan kesejahteraan petani.
MUH. KHOIRUDDIN: JANGAN BIARKAN SUARA PETANI DAERAH TERABAIKAN
Bagi Muh. Khoiruddin, perjuangan petani sawit tidak boleh berhenti di tingkat kabupaten maupun provinsi. Berbagai persoalan yang selama ini dihadapi pekebun rakyat harus dibawa ke forum nasional agar mendapatkan perhatian pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan industri kelapa sawit.
Ia menegaskan, APKASINDO Kaltara hadir sebagai wadah perjuangan sekaligus rumah besar bagi petani sawit di Kalimantan Utara, tanpa membedakan asal wilayah maupun latar belakang pekebun.
Petani sawit, menurutnya, memiliki peran penting dalam menopang industri kelapa sawit nasional. Karena itu, mereka harus memperoleh perhatian yang proporsional, terutama terkait kebijakan tata niaga, perlindungan harga TBS, kepastian hukum, akses program pemerintah, serta peningkatan nilai tambah hasil perkebunan.
Keterlibatan perwakilan dari Bulungan, Malinau, Tana Tidung, dan Nunukan juga menjadi momentum memperkuat persatuan dan posisi tawar petani sawit Kaltara di tingkat nasional.
APKASINDO Kaltara ingin memastikan bahwa persoalan petani di daerah sentra perkebunan maupun kawasan perbatasan tidak tenggelam dan tetap menjadi bagian dari agenda perjuangan nasional.
LIMA AGENDA STRATEGIS JADI PERHATIAN PETANI SAWIT NASIONAL
Rakernas APKASINDO 2026 dan PENAS III tidak sekadar menjadi ajang pertemuan organisasi, tetapi juga momentum merumuskan berbagai agenda strategis untuk memperjuangkan masa depan petani sawit Indonesia.
Salah satu poin penting yang menjadi perhatian bersama adalah Resolusi Petani Sawit Indonesia 2026–2027, yang mencakup lima agenda utama:
Perlindungan harga TBS dan pembenahan tata niaga sawit, agar petani mendapatkan harga yang lebih adil dan transparan.
Kepastian hukum dan perlindungan legalitas lahan, untuk memberikan rasa aman bagi pekebun rakyat dalam menjalankan usaha perkebunan.
Percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), guna meningkatkan produktivitas dan memperbaiki kualitas tanaman perkebunan rakyat.
Penguatan koperasi petani sawit, sebagai kelembagaan ekonomi untuk meningkatkan posisi tawar dan kemandirian pekebun.
Pengembangan kemitraan petani, koperasi, dan PT Agrinas Palma Nusantara, guna memperkuat sinergi dan keberlanjutan usaha perkebunan.
Kelima agenda tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada kepentingan petani rakyat, sekaligus menciptakan tata kelola industri kelapa sawit yang lebih berkeadilan.
Bagi petani Kaltara, agenda-agenda tersebut memiliki arti penting karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan usaha perkebunan dan masa depan ekonomi keluarga pekebun.
PERKUAT SOLIDARITAS, DORONG SAWIT KALTARA LEBIH BERDAYA
Muh. Khoiruddin berharap keikutsertaan delegasi petani dari empat kabupaten dalam Rakernas dan PENAS III dapat menjadi langkah nyata memperkuat solidaritas serta komunikasi antarpelaku perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Utara.
Menurutnya, tantangan sektor perkebunan tidak bisa diselesaikan secara sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi antara petani, organisasi, koperasi, pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan perusahaan perkebunan untuk membangun ekosistem sawit yang berkeadilan dan berkelanjutan.
APKASINDO Kaltara juga berkomitmen untuk terus mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan perkebunan sawit, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia petani, serta memperkuat ekonomi masyarakat di daerah.
Dengan potensi perkebunan yang dimiliki, Kalimantan Utara diharapkan tidak hanya menjadi daerah penghasil bahan baku kelapa sawit, tetapi juga mampu mengembangkan sektor hilirisasi sehingga nilai tambah industri dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat, khususnya petani.
Kehadiran Muh. Khoiruddin bersama delegasi empat kabupaten di forum nasional tersebut menjadi bagian dari upaya membawa persoalan daerah ke ruang pembahasan yang lebih luas.
Dari Kalimantan Utara, suara petani sawit terus diperjuangkan. Sebab, masa depan industri kelapa sawit tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi juga oleh sejauh mana petani sebagai pelaku utama mendapatkan perlindungan, keadilan, dan kesejahteraan dari hasil perkebunannya sendiri.




