JAKARTA – Komitmen Kalimantan Utara dalam menjaga kelestarian lingkungan kembali mendapat pengakuan nasional. Gubernur Kaltara, Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum, menerima Ecological Fiscal Transfer (EFT) Awards 2025 sebagai pelopor pendanaan ekologis di daerah, Selasa (5/8), di Hotel Aryaduta, Jakarta.
Penghargaan bergengsi ini diserahkan langsung oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup RI, Diaz Hendropriyono, didampingi Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, dalam agenda Konferensi Nasional Pendanaan Ekologis 2025 yang diselenggarakan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Pendanaan Ekologis (KMS-PE).
EFT Awards diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada daerah yang berkomitmen mengalokasikan anggaran berbasis lingkungan hidup, demi mendorong pembangunan berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon.
“Sekitar 80 persen wilayah Kaltara merupakan kawasan hutan, maka kebijakan fiskal ekologis bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan. Kami berkomitmen terhadap mitigasi perubahan iklim, konservasi, dan keberlanjutan,” ujar Gubernur Zainal saat menjadi narasumber dalam konferensi tersebut.
TAPE: Komitmen Nyata Pemprov Kaltara
Sebagai bagian dari strategi fiskal ekologis, Pemprov Kaltara telah mengimplementasikan Transfer Anggaran Provinsi berbasis Ekologi (TAPE). Skema ini memberikan insentif kepada kabupaten/kota yang berhasil menjaga kelestarian lingkungan di wilayahnya.
“Kebijakan ini mendorong keadilan fiskal. Daerah yang mampu menjaga hutan dan lingkungan akan mendapat penghargaan fiskal yang layak,” tegas Zainal.
Gubernur juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam pencapaian target penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) secara berkelanjutan.
Bulungan Raih Penghargaan Terbaik 1
Selain Pemprov Kaltara, Bupati Bulungan, Syarwani, S.Pd., M.Si, juga menerima penghargaan sebagai penerima EFT terbaik 1, karena keberhasilannya mengalokasikan dana EFT secara konsisten dan signifikan selama dua tahun terakhir.
Kehadiran Kaltara dalam perhelatan nasional ini membuktikan bahwa provinsi termuda di Indonesia tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga menjadi pelopor dalam tata kelola fiskal yang berpihak pada lingkungan.




