spot_img
More
    spot_img

    BPBD Kaltara Gelar Lokakarya Penyusunan Rencana Kontingensi Karhutla, Perkuat Sinergi Penanggulangan Bencana

    WARTA, TANJUNG SELOR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Utara menggelar kegiatan Internalisasi dan Lokakarya Penyusunan Rencana Kontingensi Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Ballroom Hotel Luminor, Senin (29/9).

    Kepala Pelaksana BPBD Kaltara, Andi Amriampa melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kaltara, Alvian Pakiding yang juga  membacakan sambutan Gubernur Kaltara. Dalam sambutannya, ditegaskan pentingnya sinergi lintas sektor untuk menghadapi ancaman karhutla yang terus meningkat setiap tahunnya.

    “Forum ini bukan hanya wadah diskusi, tetapi fondasi untuk menyatukan pemahaman, memperkaya masukan, serta memperkuat langkah nyata dalam menghadapi tantangan kebakaran hutan dan lahan,” kata Alvian.

    Wilayah Kaltara yang didominasi hutan tropis dengan topografi kompleks, lanjutnya, memang memiliki potensi tinggi terhadap berbagai bencana, khususnya karhutla. Data BPBD menunjukkan, dari total 267 kasus bencana pada 2024, kebakaran hutan dan lahan menjadi yang tertinggi dengan 103 kejadian. Hingga Agustus 2025, sudah tercatat 7 kasus karhutla.

    Tren peningkatan luas lahan terbakar juga cukup signifikan. Jika pada 2022 tercatat 370 hektare lahan terbakar, maka pada 2024 angkanya melonjak hingga 2.400 hektare. Atas dasar itu, Pemprov Kaltara menetapkan penanggulangan karhutla sebagai salah satu prioritas utama.

    Rencana kontinjensi ini, tegasnya, tidak boleh hanya menjadi dokumen di atas kertas, melainkan harus menjadi pedoman operasional yang nyata di lapangan. Fungsi utamanya adalah mengkoordinasikan berbagai lembaga dan organisasi agar mampu memberikan respons cepat, mempercepat pengambilan keputusan, dan meminimalkan dampak kebakaran hutan maupun lahan.

    Lokakarya ini menghadirkan berbagai narasumber, termasuk Wana Kristanto, fasilitator nasional penyusunan kontinjensi bencana. Seluruh pemangku kepentingan turut dilibatkan, mulai dari akademisi, forum risiko bencana, asosiasi, LSM, media, hingga dunia usaha. Keterlibatan berbagai pihak tersebut mencerminkan semangat hexahelix dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana.

    Baca Juga:  409 PPPK Paruh Waktu Kaltara Segera Bertugas, BKD: “SK Rampung, Penempatan Sudah Siap”

    SHARE:

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    spot_img

    BERITA TERPOPULER

    spot_img

    BERITA TERBARU