WARTA, NUNUKAN — Modernisasi pertanian melalui Program Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kabupaten Nunukan dinilai perlu dilakukan dengan pendekatan yang sesuai kondisi lahan. Penggunaan teknologi pertanian modern dinilai tidak akan optimal jika persoalan mendasar seperti tata air belum tertangani.
Ketua Komisi III DPRD Nunukan, Andi Fajrul Syam, mengatakan karakter lahan di setiap kawasan memiliki persoalan yang berbeda. Karena itu, penerapan PM-AAS membutuhkan pemetaan kondisi lahan secara menyeluruh sebelum teknologi, varietas, maupun mekanisasi diterapkan.
“Kalau kita melihat kondisi di lapangan, persoalannya cukup beragam. Ada produktivitas yang masih rendah, serangan hama, kerusakan tanaman di bagian tengah hamparan, kemudian karakter tanah yang berlumpur atau semi-gambut dan lokasi lahan yang berdekatan dengan laut,” kata Andi.
Menurutnya, tata kelola air menjadi salah satu faktor penting yang harus mendapat perhatian. Sistem drainase yang tidak optimal dapat menyebabkan genangan dan meningkatkan risiko penyakit maupun kerusakan tanaman.
Karena itu, Andi mendorong agar modernisasi pertanian diawali dengan pemetaan dan pembagian blok berdasarkan karakter masing-masing lahan.
“Jangan sampai kita langsung bicara varietas, benih, pupuk atau mekanisasi, tetapi persoalan air belum selesai. Sebagus apa pun teknologi yang digunakan, kalau air tidak bisa bersirkulasi dan dibuang dengan baik, risikonya tetap besar,” ujarnya.
Tata Air Perlu Didesain Sejak Awal
Andi menilai perlu ada desain tata air yang jelas sebelum penerapan PM-AAS diperluas. Pemetaan tersebut setidaknya harus mampu menggambarkan sumber masuknya air, pola distribusi air di dalam hamparan, hingga jalur pembuangan ketika terjadi kelebihan air.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar teknologi pertanian yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan dan tidak menimbulkan persoalan baru.
Selain tata air, penerapan PM-AAS juga harus mempertimbangkan kondisi tanah, pemilihan varietas, pola tanam, pemupukan, pengendalian hama, hingga mekanisme panen.
“Setiap blok belum tentu memiliki persoalan yang sama. Karena itu, keputusan budidayanya juga tidak bisa disamaratakan. Mulai dari tanah, air, varietas, pola tanam sampai pemupukan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing lokasi,” jelasnya.
Penyuluh Jadi Ujung Tombak
Andi juga menyoroti pentingnya peran tenaga penyuluh dalam memastikan teknologi pertanian benar-benar diterapkan dan memberikan hasil bagi petani.
Menurutnya, penyuluh tidak cukup hanya hadir pada tahap awal program. Pendampingan harus dilakukan secara berkelanjutan, termasuk memantau perkembangan tanaman, produktivitas, efisiensi biaya, serta berbagai kendala yang dihadapi petani.
“Penyuluh harus menjadi pendamping petani sampai hasilnya terlihat. Kalau memang produktivitas petani yang didampingi meningkat secara konsisten, dukungan dan insentif berbasis kinerja juga perlu dipikirkan,” katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan modernisasi pertanian tidak seharusnya hanya diukur dari penggunaan alat atau teknologi baru. Indikator utamanya adalah perubahan nyata yang dirasakan petani.
Peningkatan produktivitas, efisiensi biaya produksi, pengurangan risiko gagal panen, serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani harus menjadi bagian dari ukuran keberhasilan program.
“Teknologinya boleh modern, tetapi hasil akhirnya harus nyata. Produktivitas naik, biaya bisa dikendalikan, risiko berkurang dan kesejahteraan petani ikut meningkat,” pungkasnya.




