WARTA, TARAKAN – Biro Administrasi Pembangunan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) terus mengambil peran strategis dalam mempercepat transformasi ekonomi daerah melalui penguatan infrastruktur ekspor dan hilirisasi komoditas unggulan. Langkah tersebut dilakukan untuk mendorong Kaltara tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, melainkan berkembang menjadi pusat produksi dan gerbang ekspor yang berdaya saing di pasar internasional.
Komitmen itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) “Membangun Kaltara Bersama dengan Peningkatan Ekspor Langsung Komoditas Unggulan melalui Laut dan Udara” yang dibuka Wakil Gubernur Kalimantan Utara, Ingkong Ala, S.E., M.Si., di Tarakan.
Melalui forum lintas sektor tersebut, Biro Administrasi Pembangunan memperkuat fungsi koordinasi, pengendalian, dan sinkronisasi pembangunan guna memastikan seluruh program strategis daerah berjalan selaras dalam mendukung peningkatan ekspor langsung dan pengembangan industri hilir berbasis potensi lokal.
Kepala Biro Administrasi Pembangunan Provinsi Kaltara, Sapi’i, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen mengawal pembangunan infrastruktur penunjang konektivitas ekspor sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing daerah.
“Kami memaksimalkan dukungan percepatan pembangunan infrastruktur yang mendukung konektivitas ekspor dan penguatan daya saing daerah sesuai arahan pemerintah provinsi,” ujar Sapi’i.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan sektor ekspor tidak hanya ditentukan oleh kualitas komoditas, tetapi juga oleh kesiapan infrastruktur, sistem logistik, serta koordinasi antarperangkat daerah dan pemangku kepentingan.
FGD tersebut juga menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, instansi vertikal, akademisi, dan stakeholder terkait dalam membangun ekosistem ekspor yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Sementara itu, Wakil Gubernur Kaltara Ingkong Ala mengungkapkan bahwa daerah perlu segera melakukan diversifikasi ekonomi menyusul menurunnya nilai ekspor nonmigas pada 2025 yang tercatat turun 45,83 persen. Kondisi tersebut dipengaruhi tingginya ketergantungan terhadap sektor batu bara yang selama ini mendominasi hingga 85 persen struktur ekspor Kaltara.
Karena itu, pemerintah mendorong optimalisasi sektor unggulan lain seperti perikanan, perkebunan, dan kehutanan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi dan perluasan pasar ekspor.
“Kaltara memiliki sumber daya yang sangat potensial. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan nilai tambah melalui pengolahan dan memperkuat akses pasar internasional,” kata Ingkong.
Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan ekspor langsung, Pemprov Kaltara terus mempercepat pengembangan Pelabuhan Malundung Tarakan dan Bandara Juwata sebagai simpul logistik internasional. Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan standar mutu produk melalui sertifikasi internasional seperti HACCP dan ISO serta penyederhanaan layanan ekspor melalui sistem pelayanan terpadu satu pintu.
Keberhasilan ekspor langsung ikan bawal segar dan ikan malong dari Tarakan ke Hong Kong menjadi contoh nyata bahwa komoditas unggulan Kaltara mampu menembus pasar global ketika didukung sistem logistik dan infrastruktur yang memadai.
Melalui penguatan koordinasi pembangunan yang dilakukan Biro Administrasi Pembangunan, pemerintah berharap akselerasi hilirisasi industri dan peningkatan ekspor langsung dapat menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara sekaligus membuka peluang investasi, lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.




