WARTA, TANJUNG SELOR – Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Kalimantan Utara, Dr. Ilham Zain, menegaskan bahwa Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Pengembangan Perbukuan dan Budaya Literasi merupakan langkah strategis untuk memperkuat budaya membaca sekaligus membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan di Kalimantan Utara.
Menurut Ilham, regulasi tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan minat baca masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam pengembangan industri perbukuan daerah. Kehadiran perda nantinya diharapkan mampu mendorong tumbuhnya penerbit lokal, memberdayakan para penulis daerah, serta mempermudah proses penerbitan buku yang dapat dilakukan langsung di Kalimantan Utara.
“Perda ini menjadi upaya untuk mengembangkan penerbit lokal, memberdayakan penulis, dan membuka peluang agar proses penerbitan buku dapat dilakukan di wilayah Kaltara sendiri,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, tingkat literasi masyarakat Kalimantan Utara saat ini tergolong cukup baik. Berdasarkan data yang ada, Kaltara berada di peringkat ke-13 nasional dalam indeks literasi masyarakat, sebuah capaian yang dinilai cukup membanggakan dan perlu terus ditingkatkan.
“Posisi kita berada di urutan ke-13. Ini menunjukkan bahwa budaya literasi di Kaltara berkembang positif dan memiliki potensi besar untuk terus ditingkatkan,” katanya.
Ilham menjelaskan, proses pembahasan Ranperda bersama Panitia Khusus (Pansus) IV DPRD Provinsi Kalimantan Utara telah memasuki tahap akhir. Saat ini hanya tersisa satu kali pembahasan final bersama pansus sebelum rancangan regulasi tersebut dibawa ke rapat paripurna untuk mendapatkan persetujuan dan ditetapkan menjadi Peraturan Daerah (Perda).
“Pembahasannya tinggal satu tahap final lagi bersama Pansus. Setelah itu akan diproses untuk penetapan menjadi Perda. Kami optimistis regulasi ini segera hadir sebagai landasan hukum penguatan literasi dan perbukuan di Kaltara,” jelasnya.
Menurut Ilham, keberadaan perda ini memiliki arti penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul menuju Indonesia Emas 2045. Ia menilai literasi merupakan salah satu fondasi utama dalam menciptakan generasi yang cerdas, kreatif, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat global.
“Kalau kita berbicara Indonesia Emas 2045, maka salah satu kunci utamanya adalah literasi. Tidak mungkin kita memiliki sumber daya manusia yang unggul tanpa budaya membaca dan kemampuan literasi yang kuat,” tegasnya.
Ia menambahkan, di berbagai negara maju, khususnya di kawasan Eropa, pengembangan literasi tidak lagi dipandang sebagai program sosial semata, melainkan telah menjadi investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa.
“Di negara-negara Eropa, literasi dianggap sebagai investasi. Pemerintah mereka menanamkan investasi besar pada pendidikan, buku, perpustakaan, dan budaya membaca karena hasilnya akan kembali dalam bentuk kualitas sumber daya manusia yang unggul dan produktif,” ungkap Ilham.
Menurutnya, dukungan terhadap literasi harus menjadi perhatian seluruh elemen masyarakat karena berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas pendidikan, produktivitas, serta daya saing daerah.
“Buku dan literasi itu seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Jika buku tersedia tetapi budaya membaca tidak kuat, maka buku tidak akan banyak dimanfaatkan. Sebaliknya, jika minat membaca tinggi tetapi akses terhadap buku masih terbatas, tentu itu juga menjadi kendala,” ujarnya.
Ilham juga membagikan pengalamannya saat menempuh pendidikan di Jilin University, Tiongkok. Ia mengaku terkesan dengan budaya membaca yang begitu kuat di lingkungan kampus maupun masyarakat.
“Ketika masuk ke perpustakaan, hampir semua orang fokus membaca buku. Itu menunjukkan bahwa literasi sudah menjadi budaya yang mengakar dan bagian dari kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Melalui Ranperda Pengembangan Perbukuan dan Budaya Literasi yang segera memasuki tahap penetapan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara berharap dapat memperkuat ekosistem literasi secara menyeluruh, mulai dari penguatan perpustakaan, peningkatan akses bahan bacaan, pengembangan penulis dan penerbit lokal, hingga membangun budaya membaca yang kuat sebagai bekal menyongsong Indonesia Emas 2045.




