WARTA, TANJUNG SELOR – Sebanyak 35 finalis Lomba Inovasi Daerah (LID) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) 2026 bersiap mempresentasikan gagasan dan inovasi mereka pada penilaian tahap II yang digelar di Function Room Hotel Luminor, Tanjung Selor, 21–22 Oktober 2026.
Puluhan finalis tersebut merupakan hasil seleksi dari 170 pendaftar yang mengikuti kompetisi yang diselenggarakan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Kaltara. Mereka akan bersaing menunjukkan inovasi yang dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pembangunan daerah.
Mengusung tema Inovasi Daerah Berbasis Potensi Lokal untuk Mendukung Kedaulatan Pangan dan Energi serta Mewujudkan Ekonomi Kalimantan Utara yang Produktif dan Inklusif, kompetisi ini diharapkan tidak hanya melahirkan gagasan baru, tetapi juga solusi yang dapat diterapkan secara nyata.
Kepala Bapperida Provinsi Kaltara, Bertius, S.Hut., mengatakan tema tersebut dipilih untuk mendorong pemanfaatan potensi lokal melalui inovasi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Menurutnya, Kaltara memiliki beragam potensi di sektor pangan, energi, hingga pariwisata yang perlu dikembangkan melalui pendekatan kreatif dan berkelanjutan.
“Inovasi yang lahir bukan hanya soal teknologi tinggi, tetapi juga tata kelola, model layanan, dan pemberdayaan yang berdampak langsung pada kedaulatan pangan, energi, serta ekonomi yang produktif dan inklusif,” udaerah, Rabu (21/10/26)
Dari total 170 pendaftar, kategori Gagasan/Ide Pelayanan Dasar menjadi yang paling banyak diminati dengan 99 peserta atau sekitar 58 persen dari keseluruhan pendaftar.
Sementara itu, kategori ASN Kabupaten/Kota diikuti 27 peserta, Masyarakat 17 peserta, ASN Provinsi 15 peserta, serta Pelajar/Mahasiswa sebanyak 12 peserta.
Tingginya minat pada kategori gagasan pelayanan dasar dinilai mencerminkan besarnya perhatian masyarakat terhadap upaya memperbaiki kualitas pelayanan publik.
Bertius menyebut antusiasme tersebut menjadi modal penting untuk membangun budaya inovasi di Kaltara. Pemerintah, kata dia, perlu memastikan gagasan yang muncul tidak berhenti sebatas konsep, tetapi memiliki peluang untuk dikembangkan dan diterapkan.
“Tugas kita sebagai pemerintah adalah memfasilitasi agar ide-ide ini tidak berhenti di atas kertas, tetapi bisa diinkubasi menjadi purwarupa dan akhirnya diterapkan,” katanya.
Sejumlah gagasan yang menarik perhatian dalam kompetisi tahun ini mencakup inovasi kesehatan, pendidikan, hingga pengolahan pangan lokal. Di antaranya deteksi dini stunting berbasis sensor, sistem donor darah terintegrasi, layanan pendidikan jemput bola bagi anak pekerja rumput laut di Nunukan, serta pengolahan ampas kopi menjadi produk berbasis maggot dan pemanfaatan buah pidada menjadi tepung.
Ragam gagasan tersebut menunjukkan bahwa inovasi daerah dapat dikembangkan dari persoalan sehari-hari yang dihadapi masyarakat, termasuk kebutuhan pelayanan dasar dan pemanfaatan sumber daya lokal.
Untuk memastikan proses penilaian berlangsung secara komprehensif, Bapperida melibatkan 14 dewan juri dari berbagai latar belakang, mulai dari unsur pemerintah pusat, akademisi, mitra pembangunan, lembaga keuangan, media, hingga tenaga ahli pemerintah daerah.
Unsur yang terlibat di antaranya BSKDN Kemendagri, LAN RI, BRIN, Universitas Kaltara, Universitas Borneo Tarakan, STIE Bulungan, Bank Indonesia, GIZ, GGGI, Tenaga Ahli SKALA, TVRI Kaltara, serta Tenaga Ahli Gubernur.
Komposisi tersebut diharapkan dapat memastikan inovasi dinilai tidak hanya dari sisi kebaruan, tetapi juga dari aspek metodologi, kelayakan, keberlanjutan, dan potensi penerapannya.
Penilaian tahap II berlangsung selama dua hari. Pada Rabu (21/10), presentasi diikuti finalis kategori Masyarakat, ASN Provinsi, dan Gagasan/Ide. Selanjutnya, Kamis (22/10), giliran kategori Pelajar/Mahasiswa dan ASN Kabupaten/Kota yang mempresentasikan inovasi mereka.
Setiap peserta memperoleh waktu 30 menit, terdiri atas lima menit pemutaran video, 10 menit presentasi, serta 15 menit wawancara dan tanya jawab bersama dewan juri. Peserta diwajibkan melakukan registrasi ulang 30 menit sebelum sesi dimulai. Khusus kategori Gagasan/Ide, peserta dianjurkan membawa purwarupa, mock-up, atau simulasi untuk memperjelas penerapan gagasan yang diajukan.
Panitia menyiapkan penghargaan bagi tujuh finalis di setiap kategori, yang terdiri atas tiga juara dan empat juara harapan. Dengan demikian, total terdapat 35 penerima penghargaan dari lima kategori.
Penghargaan yang disiapkan meliputi piagam Gubernur, trofi, dan uang pembinaan. Juara I memperoleh Rp10 juta, Juara II Rp7,5 juta, Juara III Rp5 juta, sedangkan Juara Harapan I hingga IV memperoleh uang pembinaan mulai Rp1 juta hingga Rp750 ribu.
Meski demikian, capaian utama yang diharapkan dari kompetisi ini bukan semata penghargaan, melainkan keberlanjutan inovasi setelah perlombaan berakhir.
Bertius berharap inovasi terbaik dapat dikembangkan lebih lanjut dan direplikasi di kabupaten/kota lain di Kaltara. Sementara gagasan yang masih berupa konsep diharapkan memperoleh kesempatan untuk masuk ke tahap inkubasi hingga menjadi solusi yang siap diterapkan.
“Yang paling penting, melalui ajang ini kemitraan lintas sektor semakin menguat dan budaya inovasi tumbuh di pemerintah, sekolah, kampus, serta masyarakat,” ujarnya.
Rangkaian LID Kaltara 2026 dijadwalkan berlanjut pada penetapan pemenang dan penganugerahan yang direncanakan berlangsung pada 25 Oktober 2026 mendatang
Melalui kompetisi tersebut, Bapperida berharap budaya inovasi semakin berkembang dan mampu mendorong peningkatan Indeks Inovasi Daerah Kaltara. Pada akhirnya, keberhasilan inovasi diharapkan dapat diukur dari manfaat yang dirasakan masyarakat, baik melalui peningkatan kualitas pelayanan publik maupun pemanfaatan potensi lokal untuk memperkuat perekonomian daerah.




