Sebanyak 80 warga binaan wanita mendapat motivasi dari Rahmawati, bertempat pada Aula Pengayoman Lapas Kelas II B Nunukan. Lantunan ayat suci Al Qur’an dan Shalawat Tibbil Qulub dibawakan warga binaan mengawali kegiatan yang digagas Pokja 1 TP-PKK Kaltara.
Di kesempatan ini, Rahmawati percaya bahwa setiap ujian dan cobaan dari Allah SWT yang sedang dijalani oleh warga binaan memiliki hikmah
“Kita bisa merenungkan kembali kesalahan kita, memohon ampun dan meneguhkan iman dengan memperdalam ilmu agama. Insyaallah, jika kita sudah memperbaiki diri, kita akan menjadi pribadi yang lebih baik saat kembali ke masyarakat nanti,” ujar Rahmawati.
Mendukung program Lapas yang dikepalai oleh Puang Dirham, A.Md., IP., S.Sos., M.M ini, TP-PKK Kaltara juga siap membantu peningkatan SDM warga binaan dengan memberikan pelatihan keterampilan bersertifikat seperti pengolahan makanan, tata rias dan sebagainya.
“Agar ketika sudah keluar dari sini, ibu-ibu sekalian memiliki keterampilan sebagai bekal. Biarkan pengalaman dalam Lapas menjadi masa lalu dan jangan menoleh lagi ke belakang,” lanjut istri Gubernur Kaltara ini.
Momen mengharukan terjadi ketika wanita yang akrab disapa Bunda Kaltara ini berinteraksi pada warga binaan yang sudah khatam Al Qur’an. Lebih dari separuh yang hadir ternyata sudah pernah khatam sedikitnya satu kali dari balik dinginnya jeruji besi.
Suasana penuh haru tidak terbendung ketika Ketua TP-PKK didampingi wakil Ketua PKK Nunukan menyapa dan menyerahkan bingkisan secara simbolis para warga binaan. Acara dilanjutkan dengan ceramah keagamaan oleh Ustad Kasman Gaffar.
Baca Juga: Tak Ingin Bangun Perbatasan dengan Prinsip "Tiba Masa Tiba Akal", Wabup Nunukan Gandeng Universitas Airlangga NUNUKAN – Pembangunan di wilayah perbatasan Indonesia tidak boleh dilakukan secara instan atau tanpa perencanaan matang. Prinsip itulah yang ditegaskan oleh Wakil Bupati Nunukan, Hermanus, saat menerima audiensi dari rombongan Universitas Airlangga (Unair) di Kantor Bupati Nunukan, Selasa (13/1). Dalam diskusi hangat tersebut, Hermanus menekankan bahwa keterlibatan akademisi sangat krusial untuk memastikan setiap kebijakan pembangunan didasarkan pada kajian ilmiah yang kuat, bukan sekadar kebijakan yang muncul mendadak atau "tiba masa tiba akal". Diplomasi "Persamaan": Menilik Nunukan dan Tawau Salah satu poin menarik yang disampaikan Hermanus adalah cara pandang terhadap hubungan antara Nunukan dan Tawau (Malaysia). Alih-alih menonjolkan perbedaan yang sering memicu konflik, ia mengajak para akademisi untuk melihat dari kacamata persamaan. "Bila dilihat dari perbedaannya, maka akan banyak permasalahan yang didapatkan. Namun, jika dilihat dari berbagai kesamaannya—budaya, bahasa, dan sejarah—maka akan lahir kesepakatan dan kerjasama, seperti konsep Sister City," ungkap Hermanus. Ia mengakui bahwa ketergantungan ekonomi antara masyarakat Nunukan dan Tawau telah tumbuh secara alami jauh sebelum daerah ini menjadi kabupaten. Oleh karena itu, ia berharap Unair dapat melahirkan rekomendasi kebijakan yang mampu mendorong pemerintah pusat untuk lebih serius mengembangkan ekonomi perbatasan. Inovasi di Pulau Sebatik: Dari Teknologi Nelayan hingga "Youth Engagement" Menanggapi harapan Pemkab Nunukan, Direktur Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads (AIIOC), Lina Puryanti, memaparkan rencana besar bertajuk Community Development International yang akan dipusatkan di Pulau Sebatik. Program ini bukan sekadar riset di atas kertas, melainkan aksi nyata yang melibatkan kemitraan internasional antara Unair, Universitas Borneo Tarakan, dan Universitas Johor (Malaysia). Beberapa fokus utama program ini meliputi: Modernisasi Perikanan: Transformasi teknologi bagi nelayan (penggunaan GPS, radio, serta fitur safety & security). Hilirisasi Produk: Peningkatan pengolahan pangan hasil laut dan optimalisasi budidaya rumput laut bagi UMKM. Youth Engagement: Mengajak generasi muda untuk kembali melirik sektor perikanan berbasis teknologi modern (modern fisheries). Distribusi Pasar: Pengembangan jaringan pasar agar produk lokal mampu bersaing. "Pulau Sebatik adalah wilayah strategis dari sisi kedaulatan sekaligus kesejahteraan. Kami melibatkan 4 Fakultas dan 1 Pascasarjana untuk memetakan masalah dan mencari solusi inovatif bersama nelayan dan pemuda lokal," jelas Lina. Kolaborasi Lintas Sektor Pertemuan yang dimoderatori oleh Plt. Sekda Nunukan, Raden Iwan Kurniawan, ini berlangsung interaktif dengan kehadiran jajaran pimpinan DPRD Kabupaten Nunukan, para Asisten Setda, hingga kepala OPD terkait. Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan sekelas Universitas Airlangga, besar harapan agar wajah perbatasan di Kalimantan Utara tidak lagi hanya menjadi "halaman belakang", melainkan beranda depan yang mandiri secara ekonomi dan kuat secara sosial-budaya.
Setelahnya, rombongan TP-PKK Kaltara beranjak ke Gereja Matanoew berada di kompleks Lapas Kelas II B Nunukan. Kunjungan ini disambut hangat 70 warga lebih binaan dengan berbagai dekorasi menjelang Natal.
Ia berharap kepada warga binaan yang akan keluar dari Lapas dapat terus berpegang teguh pada ajaran Tuhan. Usai menyerahkan bingkisan bagi warga binaan beragama Nasrani, kegiatan dilanjutkan dengan ibadah bersama pengurus TP-PKK Kaltara yang juga beragama Nasrani.
Menutup kunjungannya, Rahmawati menyempatkan menyapa warga binaan lainnya dari balik jeruji. Ia memberi semangat, motivasi, dan mendoakan agar mereka bisa diterima tengah-tengah masyarakat sebagai pribadi yang baru, bermanfaat bagi daerah serta bangsa dan negara.