spot_img
More
    spot_img

    Kampung Hortikultura di Nunukan Terus Tumbuh, DKPP Genjot Produksi Cabai untuk Kendalikan Harga

    WARTA, NUNUKAN – Program Kampung Hortikultura yang digaungkan Pemerintah Kabupaten Nunukan terus menunjukkan hasil menggembirakan. Program yang masuk dalam 17 arah baru kepemimpinan Bupati H. Irwan Sabri, S.E., dan Wakil Bupati Hermanus, S.Sos., ini menjadi langkah strategis pemerintah dalam menjaga ketersediaan komoditas hortikultura lokal agar pasokan di pasar tetap stabil sekaligus menekan potensi inflasi.

    Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Nunukan, Masniadi, S.Hut., M.A.P., melalui Kepala Bidang Pangan, Sambio, menyebutkan bahwa fokus pengembangan tahun ini diarahkan pada komoditas cabai—komoditas yang paling sensitif terhadap gejolak harga.

    “Cabai ini paling sering memicu inflasi. Karena itu, tahun ini kita buka delapan titik Kampung Hortikultura dengan total luas delapan hektare untuk menjaga ketersediaannya,” ujar Sambio, Kamis (20/11/2025).

    Menurutnya, bantuan benih dan pupuk telah disalurkan kepada kelompok tani. Tahap berikutnya menunggu pendampingan oleh penyuluh lapangan, dengan harapan panen cabai dapat dilakukan awal tahun depan.
    “Fisik dan keuangan program sudah selesai. Sekarang tinggal petani mengelola dan PPL mendampingi,” tambahnya.

    Selain cabai, pengembangan juga menyasar komoditas durian, pisang, semangka, dan melon. Wilayah Sebatik disebut memiliki perkembangan pesat terutama untuk pisang dan durian, sedangkan komoditas semangka dan melon banyak dibina di Nunukan dan Tulin Onsoi.

    “Pisang di Sebatik Tengah sekarang bagus sekali. Kalau durian memang tidak terlihat karena masa berbuahnya dua sampai tiga tahun,” jelasnya.

    Meski perkembangan menggembirakan, tantangan tetap besar. Banyak petani pemula belum memiliki manajemen budidaya yang kuat, sehingga hasil produksi masih fluktuatif.
    “Tanaman semusim ini sangat tergantung manajemen. Kadang petani tanam bersamaan, hasil menumpuk dan harga jatuh. Kadang tidak ada yang tanam, pasar kosong,” katanya.

    Baca Juga:  Gairahkan Lapangan N8, Rahmawati Sukses Gelar Turnamen Minisoccer: "Ini Investasi Karakter Generasi Muda"

    Sambio juga menyoroti tingginya biaya produksi hortikultura. “Satu hektare semangka bisa menghabiskan Rp40 juta. Kalau tidak didampingi, potensi gagal panen sangat besar,” ujarnya.

    Di sisi lain, beberapa komoditas seperti semangka dan sayuran daun sudah mampu memenuhi pasar lokal. Tantangan terbesar justru pada cabai, terutama karena curah hujan tinggi serta masuknya cabai murah dari luar daerah yang membuat harga cabai lokal sering anjlok.

    “Begitu cabai luar masuk dengan harga murah, kita bisa deflasi. Saat harga kembali ke normal, masyarakat merasa mahal, padahal itu harga normal cabai lokal,” terangnya.

    DKPP memastikan pendampingan dan penguatan kawasan hortikultura akan terus dimaksimalkan. Tujuan utamanya, kata Sambio, adalah menjaga ketersediaan pasokan, menstabilkan harga, dan memastikan petani tetap mendapatkan keuntungan yang layak.

    “Kita ingin pasar tidak pernah kosong dan petani tidak merugi. Itu inti pengembangan Kampung Hortikultura,” tegasnya. (*)

    SHARE:

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    spot_img

    BERITA TERPOPULER

    spot_img

    BERITA TERBARU