WARTA, TANJUNG SELOR – Inflasi di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) kembali meningkat pada September 2026. Berdasarkan perkembangan indeks harga konsumen, Kaltara mencatat inflasi sebesar 0,37 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m), lebih tinggi dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat 0,23 persen.
Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar. Kelompok ini mengalami kenaikan sebesar 1,08 persen dengan andil inflasi mencapai 0,34 persen.
Besarnya kontribusi kelompok tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga kebutuhan pangan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi perkembangan inflasi di Kaltara.
Selain pangan, kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga juga mengalami inflasi sebesar 0,37 persen dengan andil 0,02 persen.
Sementara itu, sejumlah kelompok pengeluaran lainnya mencatat kenaikan relatif kecil. Kelompok Kesehatan mengalami inflasi 0,55 persen dengan andil 0,01 persen. Rekreasi, Olahraga, dan Budaya naik 0,15 persen, tetapi tidak memberikan andil inflasi secara signifikan.
Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mengalami inflasi 0,13 persen dengan andil 0,01 persen. Adapun kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan serta Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran masing-masing mencatat inflasi 0,09 persen dengan andil 0,01 persen.
Kelompok Pendidikan juga mengalami inflasi sebesar 0,01 persen, tanpa perubahan dibandingkan bulan sebelumnya.
Di tengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan, dua kelompok pengeluaran justru mengalami deflasi. Kelompok Transportasi turun 0,21 persen dengan andil deflasi 0,03 persen. Sedangkan kelompok Pakaian dan Alas Kaki mengalami deflasi 0,05 persen dengan andil mendekati nol persen.
Sementara itu, data inflasi untuk kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga belum tercantum dalam laporan tersebut.
Secara keseluruhan, inflasi Kaltara pada September 2026 lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Dominasi kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi perhatian karena memberikan kontribusi paling besar terhadap tekanan harga di daerah.
Perkembangan ini menjadi salah satu indikator penting bagi pemerintah daerah dalam memantau pergerakan harga kebutuhan masyarakat serta menjaga stabilitas daya beli warga.




