WARTA, TANJUNG SELOR – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltara kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak menyalakan api sembarangan.
Masyarakat diminta tidak membakar lahan maupun sampah, terutama di tengah kondisi wilayah yang masih rawan kebakaran dan kabut asap.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik sekaligus Manager Pusdalops BPBD Kaltara, Rony Haryanto, S.T., M.T., mengatakan pencegahan Karhutla dapat dimulai dari hal sederhana, yakni memastikan tidak ada aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran.
“Jangan membakar lahan dan jangan membakar sampah sembarangan. Api kecil bisa cepat meluas kalau kondisi mendukung,” kata Rony di Command Center Pusdalops BPBD Kaltara, Senin (31/8).
Imbauan tersebut disampaikan saat sejumlah wilayah Kaltara masih menghadapi ancaman Karhutla dan kabut asap. Sekitar 40 titik panas dan kebakaran terpantau di sejumlah lokasi, di antaranya Selimau, Kelurahan Jelarai Selor, Karang Tigau, serta Mangkupadi, Kecamatan Tanjung Palas Timur.
Kondisi lahan gambut menjadi perhatian khusus karena api yang muncul di kawasan tersebut cenderung lebih sulit ditangani. Tantangan semakin besar apabila lokasi kebakaran sulit dijangkau akibat akses jalan terputus maupun kerusakan jembatan.
Di tengah situasi tersebut, petugas gabungan terus melakukan penanganan di lapangan. Tim terpadu yang melibatkan Kepolisian Daerah (Polda) Kaltara, Polres, Kodim/TNI-Polri, Manggala Agni, BPBD Kabupaten Bulungan, Dinas Kesehatan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara, dan Pemerintah Kabupaten Bulungan dikerahkan untuk melakukan pemadaman dan penanganan di titik-titik yang membutuhkan.
Namun, menurut Rony, kerja keras petugas akan sulit maksimal apabila masih ada aktivitas masyarakat yang memicu munculnya api.
“Yang paling penting adalah mencegah. Jangan sampai api muncul karena pembakaran yang sebenarnya bisa kita hindari,” tegasnya.
BPBD Kaltara juga terus memperkuat pemantauan titik panas menggunakan data satelit dan informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Personel disiagakan secara bergantian untuk mengantisipasi kemunculan titik api baru.
Meski jumlah titik panas di Kabupaten Bulungan mulai menunjukkan penurunan, kewaspadaan belum diturunkan. Pengawasan tetap difokuskan pada kawasan gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, termasuk wilayah yang berada di sekitar pesisir.
Selain ancaman kebakaran, kabut asap yang terbawa angin juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah.
Rony menekankan, masyarakat tidak perlu menunggu api membesar untuk bertindak. Setiap indikasi kebakaran harus segera dilaporkan kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
“Begitu melihat ada kebakaran, segera laporkan. Semakin cepat informasi diterima, semakin cepat petugas bisa bergerak,” pungkasnya.




