spot_img
More
    spot_img

    Menjelajahi Identitas Borneo: Pemprov Kaltara Sambut Ekspedisi Arsitektur Lintas Negara TTA Seri Ke-5

    WARTA, TANJUNG SELOR – Sebuah perjalanan lintas batas yang melintasi Brunei Darussalam, Sabah (Malaysia), hingga berakhir di Kalimantan Utara (Kaltara) resmi ditutup dengan hangat di depan China Town, Tanjung Selor, Minggu (23/8) malam. Ekspedisi bertajuk Tanju Tanjung Arsitektur (TTA) Seri Ke-5 yang digagas oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan misi penelusuran rekam jejak sejarah, budaya, dan identitas peradaban Pulau Borneo melalui karya arsitektur.

    Mewakili Gubernur Kaltara, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kaltara, H. Sapi’i, S.T., M.A.P., menyambut hangat rombongan peserta. Ia menjelaskan bahwa istilah “Tanju Tanjung” diserap dari bahasa Dayak yang bermakna berjalan-jalan atau berkeliling untuk mengamati bangunan bersejarah secara langsung.

    “Yang kita lihat bukan hanya fisik bangunan. Di dalamnya ada cerita, kebiasaan, dan nilai sejarah yang menggambarkan identitas masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya,” ujar Sapi’i dalam sambutannya.

    • Jejak Lintas Batas: Perjalanan TTA Seri Ke-5 membuktikan bahwa narasi sejarah Borneo saling terhubung erat meski kini terpisah oleh batas administratif antarnegara.

    • Warisan Arsitektur Kaltara: Ekspedisi ini menyoroti situs penting seperti Balai Teras Nawang, peninggalan Kesultanan Bulungan, Masjid Sultan Kasimuddin di Tanjung Palas, hingga Rumah Bundar dan lanskap bersejarah Pertamina di Tarakan.

    • Arsitektur Berkelanjutan: Pemprov Kaltara mendorong para arsitek agar menjadikan peninggalan masa lalu sebagai inspirasi merancang karya modern yang tetap menyatu dengan lingkungan dan karakter lokal.

    Sapi’i menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara arus modernisasi dan kelestarian warisan budaya. Pembangunan infrastruktur masa depan diharapkan tidak mengikis karakter asli daerah.

    “Arsitektur masa depan jangan sampai kehilangan identitas lokal. Modern boleh, tetapi akar budayanya tetap harus dijaga,” tegasnya. Perjalanan panjang dari Brunei hingga Tanjung Selor ini membawa pesan kunci: arsitektur bukan sekadar tentang struktur beton dan kayu, melainkan tentang manusia, sejarah, dan jiwa yang hidup di dalamnya.

    Baca Juga:  Kesbangpol dan Pol-PP Kaltara Pimpin Realisasi APBD, DPUPR-Perkim Tertinggal Jauh

    SHARE:

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    spot_img

    BERITA TERPOPULER

    spot_img

    BERITA TERBARU