WARTA, TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mendorong pendekatan yang lebih terbuka dan humanis dalam menyikapi berbagai isu sosial yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk isu LGBT.
Pesan tersebut disampaikan dalam Sarasehan “LGBT, Dialog dan Penguatan Pemahaman terhadap Isu-Isu Sosial Kemasyarakatan” yang digelar di Aula Kantor Gubernur Kaltara, Kamis (20/8).
Mewakili Gubernur Kaltara, Kepala Dinas Pariwisata Kaltara, Dr. Njau Anau, S.Pd., M.Si., mengatakan persoalan sosial tidak selalu harus dihadapi melalui perdebatan. Menurutnya, diperlukan ruang dialog yang memungkinkan berbagai pihak menyampaikan pandangan secara terbuka dan bertanggung jawab.
“Ini merupakan inisiatif yang positif. Kita perlu menghadapi isu sosial yang berkembang dengan arif dan bijaksana,” ujar Njau.
Ia menilai perubahan sosial yang terjadi di masyarakat perlu diikuti dengan pemahaman yang baik agar tidak berkembang menjadi stigma, prasangka, maupun konflik.
Dua Perspektif dalam Melihat Persoalan
Dalam menyikapi isu LGBT dan kelompok rentan, Pemprov Kaltara mendorong pembahasan yang mempertimbangkan aspek kemanusiaan sekaligus nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.
Dari sisi kemanusiaan, setiap warga memiliki hak untuk memperoleh rasa aman, perlindungan, serta akses terhadap layanan dasar tanpa perlakuan yang merendahkan martabat.
Sementara dari sisi sosial dan budaya, Kaltara memiliki norma masyarakat, adat istiadat, serta nilai-nilai keagamaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan bersama.
“Dialog ini penting agar kita bisa saling mendengar, menjaga harmoni sosial, menghormati nilai keagamaan, dan mencegah potensi konflik,” katanya.
Menurut Njau, pendekatan dialog juga diperlukan agar masyarakat memperoleh informasi yang lebih utuh dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.
Jaga Harmoni Sosial
Pemprov Kaltara juga menekankan pentingnya penguatan edukasi mental dan spiritual sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang saling menghormati serta mampu menghadapi berbagai perubahan sosial.
Njau berharap ruang-ruang dialog seperti sarasehan tersebut dapat terus dikembangkan dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.
“Persatuan, persaudaraan, kerukunan, dan toleransi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan di Kalimantan Utara,” pungkasnya.
Sarasehan menghadirkan Ketua Umum PGIS Kabupaten Bulungan, Pdt. I Bagus Very Andogo, M.Th., serta Dokter Spesialis Jiwa RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmojo Kabupaten Bulungan, dr. Yuliana Christarina, Sp.KJ.
Melalui forum tersebut, isu yang sensitif diharapkan dapat dibahas secara lebih proporsional, dengan mengedepankan dialog, penghormatan terhadap martabat manusia, nilai sosial-keagamaan, serta upaya menjaga kerukunan masyarakat Kaltara.




