More

    Terisolasi, Desa Wayagung Berjuang di Tengah Keterbatasan

    WARTA, NUNUKAN – Di sudut terpencil Kecamatan Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Desa Wayagung menjadi saksi bisu perjuangan masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Dengan 200 lebih kepala keluarga (KK), desa ini menghadapi tantangan berat: tidak ada listrik, jalan yang sulit ditempuh, dan sebuah jembatan gantung tua yang nyaris ambruk.

    Jembatan Wayagung, satu-satunya penghubung ke dunia luar, kini di ambang kehancuran. Dibangun 19 tahun lalu, jembatan sepanjang 70 meter itu hanya bertahan berkat swadaya masyarakat yang tak kenal lelah memperbaikinya. Namun kini, waktu seakan mengejar. “Jika jembatan ini runtuh, Desa Wayagung akan sepenuhnya terputus. Warga tidak punya pilihan lain,” ujar Riyan Antoni, Anggota DPRD Nunukan Dapil Krayan dikutip , Senin (6/1).

    ADVERTISEMENT

    Perjuangan yang Melelahkan

    Kehidupan di Desa Wayagung penuh perjuangan. Ketika ada warga yang sakit, masyarakat harus bahu-membahu menandu pasien melewati gunung dan jalan terjal selama lebih dari 12 jam untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat. Itu pun harus melewati jembatan gantung yang kini rapuh dan berbahaya.

    “Kalau jembatan ini benar-benar putus, bagaimana kami harus membawa orang sakit? Selama ini kami sudah berjalan seharian penuh hanya untuk mendapat bantuan,” keluh salah satu warga.

    Jembatan itu bukan hanya simbol keterhubungan, tapi juga nyawa bagi desa tersebut. Namun, sejak dibangun pada 2004, tidak ada intervensi serius dari pemerintah. Hanya tangan-tangan warga Desa Wayagung dan Long Umung yang memperbaiki jembatan itu setiap kali rusak, meski mereka tahu upaya itu tidak cukup untuk menyelamatkannya dari kehancuran.

    Korban Nyawa yang Terlupakan

    Seiring waktu, jembatan ini telah memakan korban. Empat orang jatuh ke sungai bersama kendaraan mereka akibat kondisi jembatan yang memburuk. Saat hujan deras dan banjir besar, aliran sungai mengikis fondasi jembatan, membuatnya semakin rapuh.

    Baca Juga:  Panen Padi Desa Panca Agung: Momen Kuatkan Ketahanan Pangan dan Pengendalian Inflasi Daerah

    “Sudah belasan tahun masyarakat menunggu perhatian pemerintah, tapi kenapa suara kami tidak pernah didengar?” ujar Riyan dengan nada prihatin.

    ADVERTISEMENT

    Harapan di Tengah Ketidakpastian

    Riyan menegaskan pentingnya langkah konkret pemerintah untuk menyelamatkan Desa Wayagung dari keterisoliran. “Kami tidak meminta kemewahan, hanya akses layak agar masyarakat bisa hidup lebih manusiawi. Jembatan ini adalah urat nadi mereka,” tegasnya.

    Harapan masyarakat Desa Wayagung sederhana: sebuah jembatan yang kokoh, jalan yang dapat dilalui, dan listrik untuk menerangi malam mereka. Di tengah keterbatasan, mereka terus berjuang, berharap satu hari suara mereka akan didengar oleh mereka yang memiliki kuasa untuk mengubah nasib.

    Desa Wayagung adalah cerita tentang ketangguhan, tetapi juga tentang kepedihan. Ia menjadi pengingat bahwa di balik hiruk-pikuk pembangunan kota, ada tempat-tempat yang terabaikan. Mereka menanti uluran tangan, sebelum akhirnya benar-benar terputus dari dunia.

    Bagikan:

    BERITA TERKAIT

    REKOMENDASI

    BERITA TERBARU

    spot_img
    spot_img
    spot_img