WARTA, NUNUKAN – Banjir besar yang melanda wilayah Krayan Selatan sejak Minggu (12/1) berdampak serius pada kehidupan masyarakat. Putusnya jembatan penghubung antar kecamatan akibat luapan Sungai Krayan Selatan telah mengisolasi tujuh desa di hilir wilayah tersebut.
Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli, melaporkan bahwa meskipun ketinggian air sungai mulai surut, curah hujan tinggi masih terus terjadi, memicu kekhawatiran akan naiknya debit air. “Air sungai memang surut hari ini, tetapi hujan belum berhenti. Jembatan darurat yang kami bangun bersama masyarakat, tokoh adat, dan TNI-Polri terancam hanyut jika air kembali naik,” ujar Oktavianus dikutip Radar Tarakan, Senin (20/1).
Untuk mengatasi situasi darurat ini, masyarakat secara swadaya membangun jembatan sementara. Namun, jembatan darurat tersebut hanya memungkinkan akses pejalan kaki dan tidak dapat dilalui kendaraan, sehingga distribusi barang penting seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) sangat terhambat.
“Akibat putusnya jembatan, tujuh desa kini kesulitan mendapatkan BBM. Bahkan stok BBM untuk PLN hanya cukup untuk beberapa hari ke depan. Jika distribusi harus dilakukan tanpa kendaraan, waktu tempuh bisa mencapai tiga jam,” jelas Oktavianus.
Selain BBM, distribusi kebutuhan pokok seperti sembako juga terganggu. Pihak kecamatan telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak tetap terpenuhi.
“Kami berharap segera ada perbaikan jembatan permanen karena akses ini vital bagi distribusi BBM dan sembako. Jika dibiarkan, situasi ini akan semakin mempersulit kehidupan masyarakat di tujuh desa terdampak,” tegasnya.
Dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu, masyarakat Krayan Selatan hanya bisa berharap solusi segera diambil untuk mengatasi dampak bencana banjir ini.