WARTA, JAKARTA – Harga batu bara dunia mengalami penurunan signifikan setelah data ekonomi dari China menunjukkan tanda-tanda melambatnya sektor manufaktur. Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa permintaan dari China, sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia, akan menurun.
Pada perdagangan Selasa (28/1/2025), harga batu bara acuan Newcastle tercatat US$ 114,75 per ton, turun 1,04% atau 1,2 poin dari posisi sebelumnya. Penurunan harga ini dipicu oleh data Indeks Manufaktur PMI China yang secara mengejutkan jatuh ke angka 49,1 pada Januari 2025, lebih rendah dari ekspektasi dan angka bulan sebelumnya yang tercatat di level 50,1. Ini menandai kontraksi pertama di sektor manufaktur China sejak September 2024, serta penurunan terdalam dalam lima bulan terakhir.
Sektor manufaktur China, yang menjadi salah satu pendorong utama permintaan batu bara global, mencatatkan penurunan signifikan. Output manufaktur menyusut untuk pertama kalinya dalam lima bulan, sementara pesanan baru juga mengalami penurunan tajam, yang memperburuk prospek permintaan batu bara.
Selain itu, pesanan luar negeri yang menurun juga menambah tekanan terhadap sektor manufaktur China, yang mulai terlihat lebih lemah. Aktivitas pembelian dalam negeri juga menunjukkan penurunan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir.
Tantangan Energi Terbarukan yang Mengancam Batu Bara
Di sisi lain, China juga semakin fokus pada transisi energi, yang berpotensi menambah tekanan bagi industri batu bara. Negara ini menargetkan untuk mencapai emisi karbon netral pada tahun 2060, dengan puncak emisi diperkirakan tercapai sebelum 2030. Upaya besar China untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan semakin memperkuat tren ini.
Pada 2024, China kembali mencatatkan rekor baru dalam penambahan kapasitas energi baru terbarukan (EBT). Beberapa proyek besar, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya Tengger Desert Solar Park, serta kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Angin Gansu, telah memperkuat posisi China sebagai pemimpin dalam kapasitas energi terbarukan global.
Menurut laporan Badan Energi Nasional (NEA), China berhasil menambah kapasitas energi terbarukan hingga 277 gigawatt (GW) sepanjang tahun 2024, angka tertinggi sepanjang sejarah dan jauh melampaui pencapaian tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa China sedang mempercepat transformasi energi, sekaligus mengurangi ketergantungannya pada bahan bakar fosil, termasuk batu bara.
Perubahan Lanskap Pasar Batu Bara
Secara keseluruhan, penurunan aktivitas manufaktur dan dorongan kuat terhadap energi terbarukan menjadi ancaman besar bagi pasar batu bara. Dengan China yang terus mendorong transisi energi dan mempercepat dekarbonisasi, permintaan batu bara dari negara tersebut diperkirakan akan terus tertekan dalam jangka panjang.
Seiring dengan tren ini, pelaku pasar batu bara global harus memantau lebih lanjut perkembangan ekonomi China, terutama terkait kebijakan-kebijakan energi yang semakin ramah lingkungan. Jika China terus mengurangi ketergantungannya pada batu bara, maka harga komoditas ini bisa terus berada dalam tren penurunan.