WARTA, NUNUKAN — Proses distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke wilayah Krayan Selatan kini menghadapi tantangan besar. Akibat putusnya jembatan utama di daerah tersebut, kendaraan yang biasa mengangkut BBM tidak bisa melintas. Sebagai solusinya, distribusi BBM kini dilakukan secara manual dan masyarakat setempat harus antri untuk mendapatkan jatah terbatas.
Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli, mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat dibatasi dalam pembelian BBM untuk memastikan stok yang terbatas dapat tersebar merata. “Hari ini, setiap warga hanya mendapat jatah 3 liter BBM. Antrean dilakukan langsung di SPBU dengan kondisi yang cukup sulit,” ujarnya dikutip oleh Radar Tarakan pada Kamis (23/1).
Kendati demikian, warga yang antre harus berjalan kaki menuju SPBU, mengingat kendaraan baik roda dua maupun roda empat tidak dapat melewati jembatan darurat yang dibuat secara swadaya oleh warga. “Jembatan darurat ini hanya bisa dilalui pejalan kaki, sehingga masyarakat harus berjalan kaki sejauh setengah kilometer untuk mendapatkan BBM,” jelas Oktavianus.
Pasca banjir yang melanda, jembatan darurat menjadi satu-satunya jalur penghubung untuk perlintasan orang dan barang di Krayan Selatan. Namun, kondisi cuaca yang terus diguyur hujan setiap hari menambah kekhawatiran. “Kondisi cuaca di Krayan Selatan sangat ekstrem, hujan hampir setiap hari. Kami khawatir jika banjir kembali terjadi, jembatan darurat ini bisa saja terhanyut,” tambahnya.
Sementara itu, pihaknya terus berupaya untuk memastikan distribusi BBM tetap berjalan meski dengan keterbatasan infrastruktur. Pembelian BBM yang dijatah ini diharapkan dapat membantu mengatur distribusi yang adil di tengah situasi yang serba terbatas.
Dengan adanya jembatan darurat yang hanya dapat digunakan oleh pejalan kaki, serta stok BBM yang terbatas, masyarakat Krayan Selatan berharap situasi ini segera membaik agar kebutuhan mereka dapat terpenuhi tanpa ada kesulitan lebih lanjut.