WARTA, WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) kembali memperketat tekanannya terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan meningkatkan hadiah untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya menjadi USD25 juta atau sekitar Rp408 miliar. Angka ini naik signifikan dari USD15 juta yang diumumkan pada tahun 2020.
Langkah ini diumumkan oleh Departemen Keuangan AS pada Jumat (10/1/2025) sebagai bagian dari serangkaian tindakan yang lebih luas terhadap rezim Maduro. Washington juga meningkatkan sanksi dan pembatasan perjalanan terhadap pejabat tinggi Venezuela yang dituding terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia dan subversi demokrasi.
Pemilu yang Kontroversial
AS menolak mengakui kemenangan Maduro dalam pemilu presiden Venezuela pada Juli 2024, yang disebutnya penuh dengan kecurangan dan tidak demokratis. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya memiliki “bukti sangat kuat” bahwa kandidat oposisi, Edmundo Gonzalez, adalah pemenang yang sah dalam pemilu tersebut.
Pada hari pelantikan Maduro, Jumat lalu, AS menuduh pemerintah Venezuela melakukan tindakan represif dan merusak proses demokrasi. “Penindasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh rezim ini tidak dapat ditoleransi,” ujar juru bicara Departemen Keuangan AS.
Hadiah untuk Pejabat Tinggi Venezuela
Selain Maduro, AS juga menawarkan hadiah sebesar USD25 juta untuk informasi terkait Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello dan USD15 juta untuk Menteri Pertahanan Vladimir Padrino Lopez. Keduanya dituduh terlibat dalam penindasan dan pelanggaran HAM terhadap oposisi.
Sanksi tambahan juga diberikan kepada sejumlah pejabat tinggi lainnya, termasuk presiden perusahaan minyak negara PDVSA, menteri transportasi, serta beberapa perwira tinggi militer dan polisi.
Ultimatum Sebelum Pelantikan
Sebelum pelantikan Maduro pada Januari 2025, kepala Unit Urusan Venezuela di Kedutaan Besar AS di Kolombia, Francisco Palmieri, memberikan ultimatum kepada Caracas. Palmieri menuntut agar Maduro mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan kepada Gonzalez, yang dianggap AS sebagai pemenang pemilu yang sah.
Langkah terbaru ini menunjukkan peningkatan tekanan AS terhadap Venezuela, meskipun Maduro tetap kokoh mempertahankan posisinya. Dengan hadiah besar dan sanksi tambahan, AS berharap dapat mengguncang kekuasaan Maduro yang terus menuai kritik internasional.